RAM Makin Mahal, Toko Komputer Terapkan Sistem Harga Seafood

Lonjakan harga RAM di pasar global semakin tidak terkendali dan memicu perubahan besar dalam sistem penjualan di sejumlah toko komputer. Beberapa retailer di Amerika Serikat kini tak lagi menampilkan harga tetap dan beralih ke mekanisme harga pasar, di mana konsumen harus menanyakan harga terbaru langsung kepada staf karena nilai dapat berubah setiap hari.

Fenomena ini terlihat di Central Computers, sebuah toko perangkat keras komputer di California. Sebuah foto yang beredar menunjukkan pengumuman yang menyatakan bahwa harga RAM tidak dapat dipasang secara permanen karena fluktuasi pasar yang ekstrem. Praktik serupa juga ditemukan di Micro Center, di mana pelanggan diimbau meminta informasi harga langsung ke petugas akibat volatilitas harga komponen memori.

Kenaikan harga berlangsung sangat cepat. Hanya dalam hitungan bulan, harga RAM dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat bahkan hingga 300 persen. Misalnya, kit RAM DDR5 berkapasitas 32GB yang sebelumnya dijual sekitar 130 dolar AS (sekitar Rp2,1 juta) kini mencapai 440 dolar AS (sekitar Rp7,3 juta). Sementara itu, paket RAM 64GB kini bisa dibanderol antara 700 hingga 900 dolar AS, atau sekitar Rp11,7 juta hingga Rp15 juta, tergantung merek dan kecepatan.

Penyebab utama kenaikan harga ini berasal dari meningkatnya permintaan industri pusat data berbasis kecerdasan buatan. Perusahaan teknologi global berlomba membangun server masif untuk kebutuhan AI generatif, yang membutuhkan kapasitas memori jauh lebih besar dibanding perangkat konsumen. Dengan nilai kontrak jauh lebih tinggi, produsen seperti Samsung, Micron, dan SK Hynix memprioritaskan pasokan untuk pusat data. Dampaknya, stok RAM untuk pasar konsumen semakin menipis.

Selain itu, pergeseran standar teknologi ke DDR5 juga berkontribusi mempersempit pilihan bagi pengguna PC. Transisi ini dilakukan seriring berakhirnya dukungan untuk DDR4 pada prosesor dan motherboard terbaru. Di sisi lain, faktor ekonomi, tarif impor, serta kemungkinan praktik spekulatif seperti penimbunan barang turut memperburuk situasi. Kondisi ini sempat terjadi pada pasar GPU saat krisis penambangan kripto beberapa tahun lalu.

Kenaikan harga komponen ini juga dikhawatirkan mempengaruhi peluncuran perangkat baru. Valve misalnya, belum dapat memastikan harga Steam Machine karena biaya produksi yang tidak stabil. Rumor lain menyebutkan harga konsol Xbox berpotensi naik kembali, sementara Sony disebut memiliki stok RAM yang cukup untuk beberapa bulan sehingga tidak perlu mengubah harga PlayStation 5 dalam waktu dekat.

Beberapa pakar memperingatkan bahwa krisis harga ini mungkin tidak akan segera berakhir. CEO Epic Games, Tim Sweeney, menyatakan bahwa pemulihan industri PC dapat memakan waktu bertahun tahun karena kapasitas produksi memori terus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan AI. Menurutnya, data center besar membayar jauh lebih tinggi dibanding produsen perangkat konsumen, sehingga pasar umum tersisih dalam perebutan suplai memori.

Meskipun begitu, analis memperkirakan harga dapat terkoreksi jika permintaan AI melambat atau jika pasar memasuki fase kejenuhan. Beberapa ekonom bahkan mewaspadai kemungkinan gelembung industri AI pecah seperti fenomena dot com pada tahun 2000. Jika itu terjadi, harga RAM mungkin kembali normal meskipun dampak ekonominya bisa jauh lebih luas daripada sekadar biaya upgrade PC.

Untuk sekarang, pengguna PC yang berencana meningkatkan performa perangkat disarankan membeli RAM jika menemukan harga yang mendekati harga normal pasar. Dengan tren yang masih terus bergerak naik, banyak pengguna teknologi berharap situasi ini segera stabil dan industri kembali menemukan keseimbangan.