Upaya terbaru menghidupkan kembali novel klasik karya Emily Brontë menghadirkan pendekatan yang jauh dari kesan drama periode yang kaku. Film “Wuthering Heights” versi 2026 garapan Emerald Fennell justru tampil berani, emosional, dan sangat bergaya. Di balik tampilannya yang memikat, ada tangan sinematografer Linus Sandgren yang memberi nyawa visual pada kisah cinta penuh obsesi ini.
Sejak awal, proyek ini memang tidak dirancang sebagai adaptasi realistis yang tunduk pada detail sejarah semata. Fennell ingin menangkap sensasi pertama kali membaca novel tersebut saat remaja. Dunia yang dihadirkan bukan sekadar Yorkshire abad ke 19, melainkan ruang batin yang diperbesar, tempat perasaan seperti gairah, cemburu, dan patah hati tampil tanpa rem. Pendekatan ini memberi kebebasan besar bagi Sandgren untuk mendorong bahasa visual ke titik yang lebih ekspresif.
Konteks ini penting untuk dipahami karena “Wuthering Heights” selama ini identik dengan adaptasi yang suram dan konservatif. Versi baru ini, yang dibintangi Margot Robbie sebagai Cathy dan Jacob Elordi sebagai Heathcliff, memilih jalur berbeda. Alih alih membumi, film ini menonjolkan atmosfer yang hampir terasa seperti mimpi. Cuaca ekstrem, langit merah menyala saat hati hancur, hingga lanskap yang seolah ikut bernapas bersama karakter menjadi metafora visual yang konsisten.
Banyak adegan luar ruang ternyata dibangun di studio. Keputusan ini memberi kendali penuh atas warna dan cahaya. Fennell terinspirasi oleh karya sinematik klasik seperti Black Narcissus dan A Matter of Life and Death yang dikenal berani bermain warna dan set buatan. Hasilnya adalah komposisi gambar yang terasa seperti lukisan, namun tetap menyisakan intensitas emosi yang mentah.
Pilihan teknis juga memperkuat visi tersebut. Sandgren tetap setia pada film seluloid, terutama format 35mm, dengan beberapa adegan lanskap direkam menggunakan VistaVision. Sempat muncul wacana memakai 65mm, tetapi detail yang terlalu tajam dianggap mengurangi nuansa romantis yang ingin dicapai. Tekstur butiran film dinilai memberi kesan organik dan emosional yang sulit ditiru kamera digital. Warna kulit dan lanskap pun terlihat lebih hangat dan hidup.
Aspek rasio 1.85:1 dipilih setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Format ini dianggap paling imersif untuk bioskop modern sekaligus mendukung komposisi vertikal yang menekankan kesendirian Cathy. Dalam banyak adegan, ia tampak kecil dan terisolasi di tengah ruang yang luas. Bingkai yang lebih tinggi membuat rasa sepi itu terasa lebih kuat dibandingkan format layar lebar ekstrem.
Semua keputusan visual tersebut tidak hanya soal estetika. Ada tujuan jelas untuk membuat setiap bingkai mencerminkan kondisi batin karakter. Saat ayah Cathy dipermalukan, hujan deras turun seolah menegaskan rasa rapuh dan terhina. Ketika kebahagiaan semu hadir di Thrushcross, musim semi terasa abadi. Dunia dalam film ini bergerak mengikuti emosi, bukan hukum alam.
Mengapa pendekatan seperti ini penting? Adaptasi karya klasik sering terjebak pada upaya menjaga kesetiaan bentuk, tetapi melupakan pengalaman emosional yang membuat karya itu bertahan ratusan tahun. Dengan menempatkan emosi sebagai pusat tata visual, film ini mengingatkan bahwa kisah Heathcliff dan Cathy bukan sekadar drama sosial, melainkan ledakan perasaan yang melampaui norma.
Dampaknya terasa bagi siapa pun yang menyaksikan. Film ini tidak hanya mengisahkan cinta yang destruktif, tetapi juga mengajak merasakan intensitasnya melalui warna, tekstur, dan komposisi gambar. Setiap adegan dirancang agar emosi dapat ditangkap bahkan ketika film dihentikan dalam satu bingkai. Pendekatan tersebut menjadikan pengalaman menonton lebih imersif dan personal.
Versi terbaru “Wuthering Heights” akhirnya menunjukkan bahwa karya klasik dapat terus diperbarui tanpa kehilangan ruhnya. Dengan keberanian visual dan kontrol artistik yang kuat, Fennell dan Sandgren membuktikan bahwa romansa kelam abad ke 19 masih mampu berbicara lantang dalam bahasa sinema modern.

