Pasar smartwatch kini tidak lagi hanya soal desain elegan dan fitur notifikasi. Banyak produsen mulai menyasar segmen petualang yang membutuhkan perangkat tahan banting, akurat, dan mampu bertahan lama jauh dari colokan listrik. Di kategori inilah Amazfit menghadirkan T-Rex 3 Pro, model terbaru yang diperkenalkan dalam ajang IFA 2025.
Perangkat ini dirancang untuk penggunaan outdoor yang serius. Bodinya terlihat kokoh dengan material plastik yang diperkuat serat, sementara bezel dan tombolnya menggunakan titanium grade 5. Tersedia dua ukuran, 48 mm dan 44 mm, dengan versi 48 mm menjadi varian paling besar sekaligus paling tahan lama dari sisi daya tahan baterai.
Ketangguhan menjadi nilai jual utama. Jam ini diklaim memenuhi berbagai standar militer, tahan air hingga tekanan 10 ATM, dan sanggup digunakan menyelam sampai kedalaman 45 meter. Suhu ekstrem juga bukan masalah karena perangkat ini tetap berfungsi bahkan dalam kondisi sangat dingin. Fitur tambahan seperti senter LED kecil, lengkap dengan mode cahaya putih, merah, hingga sinyal SOS, mempertegas identitasnya sebagai jam petualangan.
Layar AMOLED berukuran 1,5 inci pada versi 48 mm menampilkan resolusi 480 x 480 piksel dengan perlindungan sapphire glass. Tingkat kecerahan yang sangat tinggi membuat informasi tetap terbaca jelas di bawah sinar matahari langsung. Ini penting bagi aktivitas luar ruang seperti mendaki, bersepeda, atau lari trail, ketika visibilitas layar sering menjadi kendala.
Dari sisi navigasi, T-Rex 3 Pro mengandalkan sistem penentuan posisi berbasis enam satelit, termasuk GPS. Keunggulan lainnya adalah dukungan peta offline. Jalur, titik penting, hingga peta dengan garis kontur dapat disimpan langsung di jam, sehingga tetap bisa digunakan tanpa koneksi internet. Bagi pendaki atau pesepeda jarak jauh, kemampuan ini sangat krusial karena tidak semua wilayah memiliki sinyal stabil.
Untuk kebugaran, tersedia lebih dari 160 mode olahraga. Aktivitas umum seperti lari, bersepeda, dan renang tentu tersedia, tetapi daftar opsinya jauh lebih luas. Data seperti detak jantung, kadar oksigen darah, stres, kualitas tidur, dan suhu kulit dipantau sepanjang hari. Meski demikian, perangkat ini belum mendukung fitur elektrokardiogram atau pengukuran tekanan darah. Fitur-fitur medis tersebut biasanya hadir pada model premium dari merek seperti Samsung, Apple, atau Huawei dengan harga yang lebih tinggi.
Sistem operasi Zepp OS 5 menjadi otak dari perangkat ini. Pengaturan dilakukan melalui aplikasi Zepp di ponsel Android maupun iOS. Notifikasi dapat diterima langsung di pergelangan tangan, termasuk panggilan via Bluetooth selama ponsel berada di dekatnya. Tersedia pula asisten suara bawaan untuk perintah dasar dan pertanyaan sederhana.
Salah satu kekuatan terbesar T-Rex 3 Pro adalah daya tahan baterai. Versi 48 mm dibekali baterai 700 mAh yang dalam penggunaan normal dapat bertahan sekitar dua minggu. Dalam skenario hemat, klaim pabrikan menyebut hingga 25 hari. Bahkan dengan penggunaan GPS yang intens, daya tahannya masih tergolong impresif dibanding banyak pesaing di kelasnya.
Dengan harga ritel sekitar 399 dolar AS, perangkat ini diposisikan di kelas menengah atas untuk smartwatch tangguh. Harga tersebut lebih rendah dibanding model rugged premium lain, namun dengan konsekuensi tidak adanya fitur kesehatan tingkat lanjut tertentu.
Kehadiran T-Rex 3 Pro menunjukkan bahwa smartwatch kini semakin spesifik menyasar kebutuhan pengguna. Bagi pencinta kegiatan luar ruang yang membutuhkan navigasi offline, baterai tahan lama, dan bodi kokoh, model ini menjadi opsi yang menarik. Namun bagi yang mengutamakan fitur medis canggih atau ekosistem aplikasi yang sangat luas, alternatif dari merek besar mungkin lebih sesuai meski harus merogoh kocek lebih dalam.
Perangkat ini menegaskan bahwa dalam dunia wearable, daya tahan dan fungsi nyata di lapangan sama pentingnya dengan kecanggihan fitur digital.

