Sebuah aplikasi ponsel buatan China bernama “Are You Dead?” mendadak menjadi perbincangan global karena fungsinya yang sangat sederhana sekaligus mengusik. Aplikasi ini dirancang untuk memastikan satu hal mendasar pada orang yang tinggal sendiri apakah masih baik baik saja. Cara kerjanya tidak rumit dan justru itulah yang membuatnya menarik perhatian publik internasional.
Aplikasi tersebut meminta pengguna melakukan konfirmasi secara berkala hanya dengan menekan satu tombol. Jika konfirmasi tidak dilakukan selama beberapa hari, sistem akan otomatis memberi tahu kontak darurat yang sudah ditentukan sebelumnya. Tidak ada pelacakan lokasi, tidak ada pengumpulan data kesehatan, dan tidak ada pemantauan terus menerus. Fokusnya bukan pengawasan, melainkan kepastian bahwa seseorang tidak benar benar sendirian ketika sesuatu yang buruk terjadi.
Kemunculan aplikasi ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar dalam struktur sosial. Di China, jumlah orang yang hidup sendiri terus meningkat akibat urbanisasi cepat, mobilitas kerja yang tinggi, serta perubahan pola keluarga dalam beberapa dekade terakhir. Banyak orang bekerja jauh dari keluarga inti dan tinggal di apartemen kecil tanpa interaksi sosial yang intens. Dalam kondisi seperti itu, risiko keadaan darurat yang tidak diketahui siapa pun menjadi kekhawatiran nyata.
Fenomena ini tidak terbatas pada China. Di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, rumah tangga berisi satu orang kini semakin umum. Hidup mandiri sering dipersepsikan sebagai simbol kebebasan dan kemandirian, namun di balik itu tersimpan kerentanan yang jarang dibicarakan. Ketika sakit mendadak, kecelakaan, atau masalah kesehatan mental terjadi, tidak selalu ada orang terdekat yang menyadarinya.
Inilah mengapa aplikasi tersebut dianggap relevan. Bagi sebagian orang, ini bukan soal teknologi canggih, melainkan rasa aman yang sederhana. Sebuah sinyal kecil bahwa jika sesuatu terjadi, ada pihak lain yang akan tahu. Banyak pengguna menggambarkannya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarga, terutama orang tua, agar tidak dibiarkan bertanya tanya jika kabar tiba tiba terputus.
Namun pendekatan yang lugas ini juga memicu perdebatan. Nama aplikasinya dinilai terlalu keras dan menimbulkan kesan suram. Kritik muncul karena bahasa yang digunakan dianggap mencerminkan ketakutan, bukan kepedulian. Meski begitu, perdebatan ini justru menegaskan satu hal penting bahwa rasa takut akan kesepian ekstrem dan ketidaknampakan sosial benar benar dirasakan oleh banyak orang.
Pengembang aplikasi yang berasal dari generasi muda melihat diskusi tersebut sebagai masukan, bukan penolakan. Mereka berencana menyesuaikan fitur agar lebih ramah, termasuk untuk kelompok usia lanjut yang populasinya terus bertambah. Hal ini penting karena kelompok lanjut usia yang hidup sendiri menghadapi risiko kesehatan paling tinggi jika tidak ada sistem pendukung.
Bagi masyarakat luas, kemunculan aplikasi ini adalah cermin. Ia menunjukkan bagaimana teknologi berusaha mengisi celah yang dulu diisi oleh keluarga besar, tetangga, dan komunitas. Ketika hubungan sosial semakin longgar, solusi digital muncul sebagai pengganti sementara, meski tidak sempurna.
Dampaknya terasa dekat dengan kehidupan sehari hari. Aplikasi semacam ini mengajak untuk berpikir ulang tentang arti keterhubungan di era modern. Bukan hanya soal berkomunikasi di media sosial, tetapi tentang memastikan keberadaan seseorang benar benar diperhatikan. Jika sebuah aplikasi perlu dibuat untuk menanyakan apakah seseorang masih ada, itu menandakan perubahan besar dalam cara manusia hidup berdampingan.

