Dominasi layar lebar Amerika Utara pada pertengahan Januari masih berada di tangan film raksasa. Memasuki akhir pekan kelima penayangannya, Avatar: Fire and Ash kembali menempati posisi puncak box office domestik, sementara film baru 28 Years Later: The Bone Temple justru membuka debut di bawah ekspektasi.
Bagi banyak orang, Januari dikenal sebagai periode sepi bagi industri bioskop. Antusiasme liburan akhir tahun biasanya mereda, dan penonton cenderung menunggu rilisan besar berikutnya. Dalam kondisi seperti ini, film yang mampu bertahan di puncak selama berminggu-minggu menandakan kekuatan merek dan daya tarik lintas generasi. Itulah yang sedang terjadi pada Avatar: Fire and Ash.
Film ketiga garapan James Cameron tersebut menambah pendapatan sekitar 13 juta dolar pada akhir pekan, atau lebih dari 17 juta dolar jika dihitung hingga libur Martin Luther King Jr. Secara total, pemasukan globalnya telah melampaui 1,3 miliar dolar. Angka ini menegaskan bahwa dunia Pandora masih menjadi magnet besar, meski laju pendapatannya lebih cepat melambat dibanding dua film Avatar sebelumnya yang mencetak rekor sejarah.
Di sisi lain, Sony Pictures berharap banyak pada 28 Years Later: The Bone Temple, lanjutan dari semesta horor distopia yang telah dibangun sejak awal 2000-an. Dengan ulasan kritikus yang sangat positif dan respons penonton yang solid, film ini secara kualitas tidak bermasalah. Namun, pendapatan awalnya hanya sekitar 13 juta dolar untuk akhir pekan biasa dan 15 juta dolar untuk periode empat hari, jauh dari target awal. Secara global, film tersebut mengumpulkan sekitar 31 juta dolar.
Situasi ini menunjukkan bahwa kualitas dan pujian tidak selalu sejalan dengan performa komersial. Jarak rilis yang terlalu dekat dengan film sebelumnya diduga membuat penonton belum merasa perlu kembali ke bioskop untuk kisah yang serupa. Padahal, biaya produksi The Bone Temple tercatat paling tinggi dalam sejarah waralaba tersebut, sehingga tekanan finansial menjadi lebih besar.
Sementara film baru kesulitan mencuri perhatian, sejumlah judul lama justru masih menunjukkan daya tahan. Zootopia 2 terus mencetak rekor dan kini resmi menjadi film animasi Hollywood terlaris sepanjang masa dengan pendapatan global sekitar 1,7 miliar dolar. Film ini membuktikan bahwa tontonan keluarga dengan daya tarik luas bisa bertahan lama di tengah persaingan.
Fenomena menarik juga datang dari film berbiaya menengah. The Housemaid, thriller psikologis produksi Lionsgate, kembali mencatat pendapatan yang solid dan kini telah melampaui 100 juta dolar di Amerika Utara. Di tengah kekhawatiran bahwa film non-waralaba sulit bertahan, capaian ini memberi sinyal positif bagi industri.
Bagi penikmat film, dinamika box office ini menunjukkan bahwa selera pasar tidak selalu mudah ditebak. Waralaba besar dengan jeda rilis yang tepat masih memiliki keunggulan besar, sementara sekuel yang datang terlalu cepat berisiko kehilangan momentum. Di saat yang sama, film animasi keluarga dan thriller berkonsep kuat tetap mampu menemukan jalannya sendiri.
Ke depan, hasil ini akan memengaruhi strategi studio dalam menentukan jadwal rilis, anggaran, dan cara membangun antisipasi. Bagi dunia perfilman secara keseluruhan, pekan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan cerita, waktu tayang, dan kesabaran membangun minat sama pentingnya dengan nama besar di poster.

