Pasar belanja online lintas negara semakin agresif menawarkan harga miring untuk barang elektronik, termasuk perangkat hiburan bernilai tinggi seperti konsol game. Salah satu platform yang kerap memicu rasa penasaran sekaligus keraguan adalah Temu. Aplikasi ini dikenal menjual beragam produk dengan harga jauh di bawah pasar, termasuk konsol video game yang diklaim sebagai refurbished. Sebuah eksperimen dari Oregon memberi gambaran lebih jelas tentang apa sebenarnya yang didapat konsumen.
Seorang kreator teknologi membuktikan rasa ingin tahunya dengan membeli empat konsol game dari Temu. Perangkat yang diuji mencakup Nintendo Switch Lite, Nintendo Switch OLED, PlayStation 5, serta Nintendo 64. Tujuannya sederhana namun krusial, memastikan apakah label refurbished benar-benar berarti unit yang telah diperiksa, dibersihkan, dan diservis secara profesional, atau sekadar barang bekas yang diatur ulang.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Nintendo Switch Lite yang dibeli datang dalam kondisi fisik cukup baik dan berfungsi normal. Bagian dalamnya bersih, nyaris tanpa tanda pemakaian berat. Namun temuan ini justru mengarah pada kesimpulan bahwa unit tersebut kemungkinan besar hanyalah barang bekas yang masih rapi, bukan hasil proses refurbish menyeluruh.
Pengalaman berbeda muncul pada Nintendo 64. Konsol lawas ini menunjukkan tanda usia yang jelas, mulai dari bodi yang berubah warna hingga komponen internal yang berdebu. Bahkan unit tersebut merupakan versi Jepang yang dimodifikasi agar bisa memainkan kaset wilayah lain. Secara fungsi masih berjalan, tetapi klaim refurbished terasa kurang tepat karena tidak ada indikasi perawatan menyeluruh.
Nintendo Switch OLED dan PlayStation 5 juga menguatkan kesan serupa. Keduanya bekerja dengan baik, tetapi kemasannya tidak sesuai ekspektasi dan bagian dalam masih menyimpan kotoran ringan. PlayStation 5, misalnya, memerlukan pembersihan agar aliran udara tetap optimal dan risiko panas berlebih bisa dihindari.
Kasus ini penting karena istilah refurbished sering dipahami sebagai jaminan kualitas di atas barang bekas biasa. Dalam praktiknya, istilah tersebut dapat digunakan longgar oleh penjual, terutama di marketplace global yang mempertemukan konsumen dengan berbagai standar penjualan. Perbedaan makna ini berpotensi menyesatkan, terutama bagi pembeli yang mengira mendapatkan perangkat setara produk servis resmi.
Dampaknya terasa langsung pada keputusan belanja. Harga murah memang menggoda, tetapi tanpa kejelasan proses refurbish, risiko tersembunyi tetap ada. Konsumen perlu lebih kritis membaca deskripsi produk, membandingkan harga dengan pasar sekunder lain, serta memahami bahwa barang berlabel refurbished tidak selalu berarti bebas masalah.
Eksperimen ini memberi pelajaran sederhana namun relevan. Konsol dari marketplace murah bisa saja berfungsi, tetapi ekspektasi perlu disesuaikan. Dalam dunia belanja digital, label bukanlah jaminan mutlak, dan kehati-hatian tetap menjadi kunci sebelum tergiur harga yang tampak terlalu menarik.

