Google akhirnya membuka tabir awal tentang Android 17 melalui rilis Beta 1 pada pertengahan Februari 2026. Sekilas, pembaruan ini tampak seperti iterasi tahunan biasa. Namun di balik daftar perubahan teknis untuk pengembang, terselip langkah strategis yang bisa mengubah arah ekosistem Android secara menyeluruh.
Salah satu perubahan terpenting adalah dihapuskannya kebebasan pengembang untuk mengunci orientasi dan ukuran aplikasi pada perangkat berlayar besar. Selama ini, banyak aplikasi Android yang hanya berjalan nyaman dalam mode potret. Ketika dibuka di tablet, ponsel lipat, atau Chromebook, tampilannya sering terasa dipaksakan. Ada yang tidak mau berputar ke lanskap, ada pula yang tampil melebar dengan tata letak berantakan.
Masalah tersebut mungkin terasa sepele di ponsel standar. Namun di perangkat layar besar, keterbatasan itu mengganggu produktivitas dan kenyamanan. Pada ponsel lipat misalnya, aplikasi yang tidak mendukung lanskap membuat perangkat mahal itu terasa seperti ponsel biasa dengan layar besar yang tidak dimanfaatkan optimal. Beberapa produsen memang menyediakan opsi paksa rotasi, tetapi hasilnya sering tidak rapi.
Dengan Android 17, aplikasi yang menargetkan versi terbaru ini wajib mendukung fleksibilitas orientasi dan ukuran layar, khususnya pada perangkat dengan bentang layar besar. Secara teknis, sejumlah atribut lama yang memungkinkan pembatasan tersebut akan diabaikan sistem. Artinya, pengembang harus menyesuaikan desain aplikasinya agar adaptif.
Langkah ini tidak berdiri sendiri. Google diyakini sedang menyiapkan sistem operasi baru berbasis Android bernama Aluminium OS, yang diproyeksikan menggantikan ChromeOS di masa depan. Bocoran tampilan awalnya menunjukkan antarmuka Android yang dioptimalkan untuk desktop, lengkap dengan jendela mengambang dan tata kelola ala komputer.
Jika ambisi tersebut benar, maka konsistensi aplikasi menjadi syarat mutlak. Sistem operasi desktop berbasis Android tidak akan terasa premium bila aplikasi populernya hanya nyaman digunakan dalam mode potret atau tidak bisa menyesuaikan ukuran jendela. Karena itu, perubahan di Android 17 bisa dipahami sebagai fondasi menuju laptop Android yang matang.
Implikasinya cukup besar. Ekosistem Android selama ini terfragmentasi antara ponsel, tablet, Chromebook, dan perangkat lipat. Dengan memaksa standar adaptivitas aplikasi, Google mencoba menyatukan pengalaman lintas perangkat. Strategi ini juga membuka peluang persaingan lebih serius dengan platform desktop mapan seperti macOS.
Bagi pengguna ponsel biasa, pembaruan ini tetap membawa manfaat langsung. Rotasi layar akan lebih stabil tanpa harus mengulang aktivitas tertentu. Antarmuka juga mendapat penyegaran, termasuk pembaruan pada bilah pencarian Pixel Launcher, opsi pengaturan yang lebih ringkas, tombol tambahan untuk kontrol volume, serta penyesuaian ikon kecerahan.
Selain fitur visual, Google juga mengubah pendekatan pengujian sistem dengan mengganti skema Developer Preview menjadi saluran Canary berkelanjutan. Artinya, fitur eksperimental dapat diuji lebih cepat tanpa menunggu siklus rilis besar berikutnya.
Keseluruhan arah ini menunjukkan bahwa Android tidak lagi hanya berfokus pada ponsel. Android 17 menjadi sinyal bahwa Google tengah menyiapkan fase baru, di mana satu sistem dapat berjalan mulus dari layar kecil hingga laptop. Jika eksekusinya tepat, pengalaman lintas perangkat Android bisa menjadi lebih konsisten, lebih profesional, dan lebih siap bersaing di ranah komputasi yang lebih luas.

