Film animasi biasanya dipandang sebagai hiburan keluarga yang sukses besar di pasar domestik. Namun, pencapaian “Zootopia 2” menunjukkan bahwa peta kekuatan industri animasi global telah bergeser jauh melampaui batas tradisional tersebut.
Sekuel produksi Walt Disney Animation Studios ini resmi mencatatkan pendapatan box office global sebesar 1,7 miliar dolar AS. Angka itu menempatkannya sebagai film animasi buatan studio Hollywood dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah, melampaui rekor yang sebelumnya dipegang “Inside Out 2”. Dalam daftar film animasi terlaris dunia sebelum penyesuaian inflasi, “Zootopia 2” hanya berada di bawah film animasi asal China, “Ne Zha 2”.
Rekor tersebut bukan hanya simbol kemenangan satu judul film, tetapi juga menandai dominasi Disney di ranah animasi. Studio ini kini memegang sebagian besar daftar film animasi Hollywood dengan pendapatan terbesar sepanjang masa, termasuk “Frozen II” dan adaptasi CGI “The Lion King”. Di antara deretan itu, satu-satunya film non-Disney yang mampu menembus papan atas adalah “The Super Mario Bros. Movie”.
Yang menarik, keberhasilan “Zootopia 2” tidak sepenuhnya bertumpu pada Amerika Utara. Secara domestik, pendapatannya masih berada cukup jauh di bawah “Inside Out 2”. Perbedaan itu justru tertutup oleh performa luar biasa di pasar internasional, terutama Asia. China menjadi kunci utama dengan pendapatan lebih dari 600 juta dolar AS, menjadikannya salah satu film Amerika terlaris sepanjang sejarah di negara tersebut. Capaian ini nyaris menyalip rekor yang sebelumnya dipegang “Avengers: Endgame”.
Kesuksesan di China bukanlah kebetulan. Film pertama “Zootopia” telah lebih dulu membangun kedekatan emosional dengan penonton di sana, lewat kisah tokoh utama yang meninggalkan kampung halaman untuk mengejar mimpi di kota besar. Disney kemudian memperkuat hubungan itu dengan menghadirkan kawasan bertema Zootopia di Shanghai Disneyland. Fondasi tersebut terbukti menjadi modal besar bagi sekuelnya.
Popularitas film ini juga meluas ke Jepang, pasar yang dikenal selektif terhadap film asing. “Zootopia 2” kini berada di jajaran lima film terlaris tahun 2025 di negara tersebut dan berpeluang menembus pendapatan 100 juta dolar AS. Angka itu kontras dengan performa sejumlah film blockbuster Hollywood lain yang justru melemah di Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Pencapaian ini terasa semakin signifikan jika dilihat dalam konteks perubahan lanskap perfilman global. Setelah pandemi, ketegangan geopolitik dan bangkitnya industri film lokal membuat pasar seperti China jauh lebih sulit diprediksi bagi studio Amerika. Banyak film besar gagal menembus angka tinggi, bahkan dengan promosi masif. Dalam situasi seperti itu, keberhasilan “Zootopia 2” menjadi pengecualian yang mencolok.
Dampaknya tidak berhenti pada rekor angka semata. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa cerita animasi dengan tema universal, karakter kuat, dan pendekatan budaya yang tepat masih mampu menembus batas politik dan pasar. Bagi industri hiburan, hal ini menjadi sinyal bahwa strategi global tidak lagi cukup hanya mengandalkan popularitas merek, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap audiens lintas negara.
Dengan posisinya yang kini masuk 10 besar film terlaris sepanjang masa sebelum inflasi, “Zootopia 2” menegaskan bahwa film animasi bukan sekadar pelengkap dalam kalender rilis studio besar. Ia telah menjadi kekuatan utama yang mampu menentukan arah persaingan box office dunia, sekaligus menunjukkan bahwa selera penonton global semakin beragam dan tidak bisa diprediksi dengan pola lama.

