CEO Larian Studios, Swen Vincke, akhirnya memberikan klarifikasi terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dalam proses kreatif studionya. Pernyataan ini muncul setelah wawancara dengan Bloomberg memicu kritik dan kekhawatiran dari komunitas gamer serta kalangan kreator, yang menilai Larian terlalu agresif dalam mendorong penggunaan generative AI.
Melalui unggahan di media sosial, Vincke menegaskan bahwa Larian sama sekali tidak menggantikan peran concept artist dengan AI. Ia menjelaskan bahwa AI hanya dimanfaatkan pada tahap paling awal dari proses ideasi, sebatas membantu eksplorasi referensi visual dan komposisi awal. Hasil dari proses tersebut, kata Vincke, selalu digantikan sepenuhnya oleh karya concept art orisinal buatan para seniman internal.
Menurut Vincke, penggunaan AI di Larian tidak berbeda dengan memanfaatkan mesin pencari atau buku seni sebagai referensi. “Kami mempekerjakan para kreator karena talenta mereka, bukan karena kemampuan mengikuti saran mesin,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seniman tetap memegang kendali penuh atas hasil akhir, sementara AI hanya berperan sebagai alat bantu untuk mempermudah eksplorasi ide.
Klarifikasi ini disampaikan setelah Bloomberg menulis bahwa Larian “mendorong penggunaan generative AI” dalam pengembangan gim. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa AI digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari eksplorasi ide, penyusunan presentasi internal, pembuatan konsep awal, hingga penulisan teks sementara. Meski demikian, Vincke menilai interpretasi tersebut terlalu menyederhanakan konteks pembicaraan.
Jurnalis Bloomberg, Jason Schreier, bahkan membagikan transkrip kasar wawancaranya agar publik bisa menilai sendiri konteks pernyataan Vincke. Dalam percakapan tersebut, Vincke menjelaskan bahwa AI tidak serta-merta mempercepat penulisan dialog atau skrip. Sebaliknya, teknologi ini memungkinkan tim mencoba lebih banyak variasi ide, meski tetap membutuhkan penyuntingan dan sentuhan manusia.
Kontroversi ini juga menyeret proyek terbaru Larian, Divinity, yang baru saja diumumkan. Vincke memastikan bahwa gim tersebut tidak akan dirilis dengan konten hasil AI. Ia menegaskan bahwa seluruh dialog ditulis oleh manusia dan semua peran diisi oleh aktor sungguhan. Pernyataan senada juga disampaikan Larian kepada media lain, dengan menegaskan bahwa mereka tidak memangkas tim atau menggantikan karyawan demi AI.
Meski klarifikasi telah disampaikan, reaksi publik tetap terbelah. Sebagian penggemar dan mantan karyawan Larian menyuarakan kekecewaan, menilai penggunaan AI, bahkan pada tahap konsep tetap berpotensi merugikan seniman. Ada pula yang menilai teknologi ini kontroversial karena dilatih dari karya kreator lain tanpa persetujuan.
Menanggapi kritik tersebut, Vincke kembali menekankan bahwa tim seni Larian justru terus bertambah. Saat ini, studio tersebut memiliki puluhan seniman, termasuk puluhan concept artist, dan masih membuka rekrutmen. Ia menyatakan kebanggaannya terhadap karya orisinal yang dihasilkan timnya, sekaligus menegaskan komitmen Larian untuk tetap mengutamakan kreativitas manusia.
Perdebatan soal AI di industri gim tampaknya belum akan mereda. Namun, dari pernyataan resmi yang disampaikan, Larian berupaya mengambil posisi tengah: tetap mengeksplorasi teknologi baru demi menjaga daya saing, sambil menegaskan bahwa inti proses kreatif mereka tetap berada di tangan manusia.

