Industri film global akhir pekan ini tidak dipimpin Hollywood, melainkan China. Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi motor utama lonjakan penjualan tiket, dengan deretan film lokal menguasai layar dan mencetak angka fantastis dalam waktu singkat.
Sejak awal pekan, bioskop di berbagai kota besar hingga daerah tingkat bawah di China dipadati penonton. Dalam rentang enam hari, total pendapatan lima film teratas diperkirakan menembus sekitar 805 juta dolar AS. Angka ini melampaui rekor pekan terbaik sepanjang sejarah box office Amerika Utara yang pernah dicapai oleh Avengers: Endgame pada 2019. Perbandingan ini menunjukkan betapa besar daya beli pasar China saat momen libur panjang Imlek.
Menurut data platform tiket Maoyan, total pemasukan selama periode Tahun Baru Imlek telah mencapai lebih dari 3,1 miliar yuan atau sekitar 452 juta dolar AS hanya dalam beberapa hari pertama. Selama periode ini, film-film Hollywood tidak diizinkan rilis baru di China, meskipun beberapa judul lama masih bertahan di layar.
Film yang memimpin perolehan adalah Pegasus 3, karya sutradara Han Han yang dibintangi Shen Teng. Dalam tiga hari pertama, film bertema balap mobil tersebut meraup lebih dari 219 juta dolar AS. Proyeksi awal memperkirakan total pendapatan dapat menyentuh 400 juta dolar AS, bahkan ada perkiraan lebih optimistis yang menempatkannya di kisaran 600 hingga 700 juta dolar AS. Film ini dinilai memiliki daya tarik lintas generasi, dari anak-anak hingga penonton lanjut usia, berkat cerita kompetisi yang dikemas emosional dan spektakuler.
Posisi kedua ditempati film thriller spionase Scare Out garapan sutradara kawakan Zhang Yimou. Film ini mengisahkan kebocoran intelijen yang memicu kecurigaan di dalam tim keamanan nasional. Dalam tiga hari, pendapatannya melampaui 70 juta dolar AS dan diproyeksikan dapat menutup masa tayang dengan sekitar 300 juta dolar AS.
Film animasi keluarga Bonnie Bears: The Hidden Protector berada di posisi ketiga dengan perolehan yang solid. Sementara itu, film laga fantasi Blades of the Guardians: Wind Rises in the Desert yang dibintangi Wu Jing dan Jet Li juga menarik penonton muda. Di peringkat kelima, Panda Plan 2: The Magical Tribe yang menampilkan Jackie Chan masih mampu memikat keluarga sekaligus penggemar lama sang aktor.
Fenomena ini tidak sekadar soal angka. Perubahan selera penonton China menjadi sorotan penting. Film dengan pendekatan megah, efek visual kuat, dan cerita luas yang mendekati gaya produksi Hollywood kini lebih diminati dibanding film bertema patriotik seperti Wolf Warrior yang dahulu sempat dominan. Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang cepat berubah, terutama di kalangan generasi muda perkotaan.
Menariknya, meski tingkat pengangguran di kalangan lulusan muda cukup tinggi, harga tiket yang relatif terjangkau menjaga minat menonton tetap stabil. Di kota besar, harga tiket reguler sekitar 10 dolar AS, sementara di kota tingkat bawah bisa berkisar 4 hingga 7 dolar AS. Artinya, bioskop masih menjadi hiburan massal yang mudah diakses.
Bagi industri global, capaian ini menegaskan posisi China sebagai pasar film terbesar dan paling berpengaruh saat musim liburan domestik. Strategi distribusi internasional, jadwal rilis, hingga model produksi ke depan akan semakin mempertimbangkan momentum pasar China. Bagi masyarakat umum, tren ini menunjukkan bahwa pusat gravitasi industri hiburan dunia tidak lagi sepenuhnya berada di Barat. Dinamika Asia, khususnya China, kini memainkan peran yang semakin menentukan arah bisnis perfilman global.

