Code Violet: Ketika Ide Menarik Tidak Jadi Game Layak

Sekilas, Code Violet tampak seperti mimpi lama penggemar game horor aksi. Latar masa depan, stasiun luar angkasa yang hancur, eksperimen genetika yang lepas kendali, dan tentu saja, dinosaurus yang berkeliaran. Kombinasi ini mengingatkan banyak orang pada Dino Crisis, waralaba legendaris yang sudah lama absen. Namun setelah dimainkan, Code Violet justru menjadi contoh bagaimana ide yang terlihat menjanjikan bisa runtuh karena eksekusi yang lemah.

Game ini menempatkan pemain sebagai Violet, satu-satunya penyintas di sebuah fasilitas futuristik yang berubah menjadi arena perburuan. Cerita dasarnya sebenarnya sederhana dan mudah dipahami. Ada koloni manusia di masa depan, eksperimen berbahaya, dan upaya bertahan hidup dalam situasi yang seharusnya menegangkan. Masalahnya, penyampaian kisahnya gagal membangun keterikatan emosional. Informasi penting lebih sering ditemukan lewat catatan-catatan opsional, sementara adegan utama terasa terburu-buru, kaku, dan sulit diingat.

Violet sebagai tokoh utama juga tidak banyak membantu. Ia digambarkan sebagai sosok tangguh ala pahlawan perempuan klasik game aksi, tetapi tanpa kepribadian yang kuat. Motivasi dan pemikirannya jarang terasa, membuat pemain sulit memahami mengapa ia peduli pada kejadian di sekitarnya. Akibatnya, banyak momen dramatis terasa hampa karena tidak ada hubungan emosional yang terbangun sebelumnya.

Hal ini menjadi semakin bermasalah karena game justru sering menonjolkan penampilan Violet lewat sudut kamera dan opsi kostum yang berlebihan. Alih-alih terasa sebagai ekspresi karakter yang percaya diri, pendekatan ini justru terkesan canggung dan tidak selaras dengan minimnya pengembangan karakter. Di era game modern yang semakin sensitif terhadap representasi, pendekatan seperti ini terasa ketinggalan zaman.

Dari sisi visual, Code Violet sesekali mampu memikat. Pemandangan luar ruangan dengan langit ungu dan pulau-pulau yang melayang tampak menarik dari kejauhan. Namun begitu pemain mendekat, kualitas tekstur dan pencahayaan sering kali menurun drastis. Interior fasilitas sebagian besar berupa lorong-lorong generik yang sudah terlalu sering kita lihat di game bertema laboratorium atau stasiun riset. Desain levelnya jarang memberi kejutan dan cepat terasa monoton.

Masalah terbesar muncul saat pemain benar-benar berinteraksi dengan musuh. Dinosaurus yang menjadi daya tarik utama ternyata sangat terbatas variasinya dan mudah ditebak polanya. Pertarungan berulang dengan strategi yang hampir sama membuat ketegangan cepat menguap. Kamera yang sering bermasalah di ruang sempit memperparah keadaan, membuat beberapa pertempuran terasa kacau bukan karena sulit, tetapi karena sulit dilihat dengan jelas.

Upaya stealth juga nyaris tidak berarti. Musuh sering kali seolah sudah tahu posisi pemain sejak awal, dan kemampuan menghilang milik Violet malah bisa dimanfaatkan secara tidak masuk akal, bahkan terhadap bos. Alih-alih menciptakan horor atau rasa terancam, situasi ini justru menghilangkan rasa bahaya.

Di luar desain yang lemah, masalah teknis menjadi pukulan tambahan. Bug muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari suara yang bermasalah, tampilan visual yang gagal dimuat, hingga sistem inventori yang tidak berjalan semestinya. Memang ada janji perbaikan dari pengembang, tetapi dalam kondisi saat dimainkan, gangguan-gangguan ini sangat memengaruhi ritme dan keseimbangan game.

Lalu, mengapa topik Code Violet tetap penting untuk dibahas? Karena game ini mencerminkan tantangan yang sering dihadapi pengembang independen saat mencoba menghidupkan kembali genre lama. Ambisi besar tanpa fondasi desain yang kuat justru bisa berujung pada pengalaman yang mengecewakan. Bagi pemain, ini menjadi pengingat bahwa konsep menarik dan visual menggoda tidak selalu menjamin kualitas.

Bagi yang mempertimbangkan membeli Code Violet, dampaknya cukup jelas. Jika Anda berharap mendapatkan horor aksi yang menegangkan dengan cerita kuat dan gameplay solid, game ini kemungkinan besar tidak akan memenuhi ekspektasi. Namun jika rasa penasaran terhadap konsep dinosaurus di ruang angkasa lebih besar daripada tuntutan kualitas, Code Violet mungkin masih bisa menjadi pengalaman singkat yang sekadar lewat.

Pada akhirnya, Code Violet bukanlah penerus spiritual yang diharapkan banyak orang. Ia lebih tepat dilihat sebagai pelajaran tentang pentingnya eksekusi, bukan sekadar ide, dalam menciptakan game yang benar-benar berkesan.