Selama lebih dari satu dekade terakhir, industri smartphone terlihat seperti mesin tanpa rem. Hampir setiap tahun, ponsel baru hadir dengan desain lebih matang, performa lebih kencang, dan fitur yang makin relevan dengan kebutuhan pengguna. Namun, kemajuan ini tidak muncul begitu saja. Ia dibangun di atas rangkaian kegagalan besar yang pernah terjadi sebelumnya.
Di balik ponsel canggih yang kita nikmati hari ini, ada deretan perangkat yang justru menjadi contoh bagaimana keputusan keliru bisa berujung bencana. Mulai dari kesalahan desain, strategi yang salah sasaran, hingga ambisi teknologi yang melampaui kesiapan zaman. Beberapa di antaranya bahkan menjadi pelajaran mahal yang mengubah arah industri secara permanen.
Salah satu contoh paling terkenal adalah Samsung Galaxy Note 7. Ponsel ini sebenarnya nyaris sempurna di atas kertas. Desain premium, layar besar yang saat itu terasa futuristis, dan spesifikasi kelas atas. Masalahnya hanya satu, namun fatal: baterai. Dalam waktu singkat, laporan ponsel yang terbakar dan meledak bermunculan. Situasi memburuk hingga perangkat ini dilarang dibawa ke pesawat. Samsung akhirnya menarik produk tersebut sepenuhnya dan menelan kerugian fantastis. Kasus ini menjadi pengingat bahwa satu komponen bermasalah bisa meruntuhkan seluruh reputasi produk.
Beberapa tahun sebelumnya, BlackBerry Storm juga mencatatkan kegagalan ikonik. Dirilis sebagai jawaban atas iPhone generasi awal, ponsel ini justru memperlihatkan kepanikan sebuah merek besar menghadapi perubahan. Layar sentuhnya tidak responsif, sistemnya penuh bug, dan ironisnya tidak dilengkapi Wi-Fi meski menyasar segmen premium. Storm menjadi simbol awal runtuhnya dominasi BlackBerry di pasar smartphone global.
Tidak semua ponsel gagal karena kualitas perangkat keras yang buruk. Nokia Lumia 900 adalah contoh sebaliknya. Secara desain dan performa, ponsel ini dipuji dan bahkan memenangkan penghargaan. Masalahnya terletak pada ekosistem. Pilihan aplikasi yang terbatas dan keputusan Microsoft untuk tidak memberikan pembaruan sistem operasi membuat pengguna merasa ditinggalkan. Pada akhirnya, perangkat yang bagus pun tak berarti banyak jika tidak didukung platform yang berkelanjutan.
Eksperimen berlebihan juga sering berujung kegagalan. Samsung Galaxy Fold generasi pertama mencoba memperkenalkan konsep ponsel lipat ke pasar massal. Sayangnya, desain engsel dan layar belum siap. Debu mudah masuk, lapisan layar sering disalahartikan sebagai pelindung biasa, dan kerusakan terjadi hanya dalam hitungan hari. Meski generasi berikutnya jauh lebih baik, model awal ini menjadi contoh bagaimana inovasi yang dipaksakan bisa berbalik menjadi bumerang.
Amazon Fire Phone dan HTC Evo 3D menunjukkan kegagalan lain yang lebih halus: fitur unik tanpa manfaat nyata. Amazon menghadirkan ponsel yang lebih terasa sebagai alat promosi belanja ketimbang perangkat untuk pengguna. Sementara HTC mengusung layar 3D tanpa kacamata yang ternyata tidak nyaman, minim konten, dan boros baterai. Dalam kedua kasus ini, gimmick tidak cukup kuat untuk menutupi pengalaman penggunaan yang biasa saja.
Ada pula ponsel yang gagal karena harganya tidak sebanding dengan nilai yang ditawarkan. RED Hydrogen One, misalnya, menjual mimpi layar holografis dengan harga sangat tinggi. Kenyataannya, fitur tersebut minim dukungan aplikasi dan kualitas visualnya mengecewakan. Hal serupa terlihat pada Solana Saga yang mengusung jargon Web3, namun secara praktik tidak menawarkan fungsi yang benar-benar berbeda dari ponsel Android biasa.
Bahkan merek sebesar Apple pun pernah tersandung. iPhone 6, meski laris manis, menyisakan kontroversi karena bodinya mudah melengkung. Isu ini memunculkan pertanyaan tentang kompromi antara desain tipis dan daya tahan. Di sisi lain, iPhone 16e menunjukkan bahwa kegagalan tidak selalu soal kualitas, tetapi juga soal posisi produk. Spesifikasi yang terasa tertinggal dengan harga yang kurang kompetitif membuatnya sulit direkomendasikan.
Kasus paling ekstrem mungkin datang dari Escobar Fold, yang bukan sekadar ponsel gagal, melainkan penipuan. Dengan memanfaatkan popularitas ponsel lipat, produk ini dijual murah namun tidak pernah benar-benar dikirim ke pembeli. Peristiwa ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya kehati-hatian konsumen.
Mengapa semua cerita ini penting bagi pembaca hari ini? Karena setiap kegagalan tersebut membentuk standar yang kita anggap wajar sekarang. Keamanan baterai, ketahanan fisik, ekosistem aplikasi, hingga kejujuran pemasaran menjadi perhatian utama karena pernah diabaikan dan berujung masalah besar.
Bagi konsumen, pelajaran terbesarnya sederhana: jangan mudah tergoda oleh hype. Spesifikasi tinggi, fitur unik, atau janji masa depan belum tentu berbanding lurus dengan pengalaman nyata. Sejarah smartphone membuktikan bahwa ponsel terbaik bukan yang paling ambisius, melainkan yang paling matang dalam eksekusi.

