Diam-Diam Direkam Kacamata Pintar? Sekarang Ponsel Bisa Jadi Alarm Peringatan

Kehadiran kacamata pintar kembali memicu perdebatan lama soal privasi di ruang publik. Setelah Google Glass sempat mengundang kehebohan lebih dari satu dekade lalu, gelombang baru perangkat serupa kini mulai bermunculan dengan pendekatan yang lebih matang. Salah satu yang paling menonjol adalah Ray-Ban Meta smart glasses, hasil kolaborasi Meta dengan Ray-Ban, yang menawarkan kemampuan merekam foto dan video secara praktis langsung dari bingkai kacamata.

Perangkat ini dipasarkan sebagai alat bantu gaya hidup modern. Pengguna bisa mendokumentasikan momen tanpa harus mengangkat ponsel. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran tentang bagaimana orang lain dapat mengetahui kapan mereka sedang direkam. Meski Meta menyematkan lampu indikator saat kamera aktif, sebagian kalangan menilai sinyal tersebut belum sepenuhnya menjawab kegelisahan soal pengawasan diam-diam.

Di tengah situasi ini, sebuah aplikasi independen hadir menawarkan solusi alternatif. Aplikasi yang tersedia di Google Play dan juga dibagikan melalui GitHub itu dirancang untuk mendeteksi sinyal Bluetooth dari kacamata pintar di sekitar. Jika sistem mengenali perangkat yang sesuai, ponsel akan mengirimkan notifikasi peringatan. Pengembangnya, Yves Jeanrenaud, bahkan menyediakan opsi untuk mengatur jarak deteksi sesuai kebutuhan.

Cara kerjanya sederhana namun relevan dengan kondisi saat ini. Sebagian besar kacamata pintar terhubung ke ponsel melalui Bluetooth. Dengan memindai sinyal tersebut, aplikasi mencoba mengidentifikasi kemungkinan keberadaan perangkat. Meski demikian, ada potensi kesalahan identifikasi karena Bluetooth juga digunakan banyak perangkat lain. Artinya, peringatan yang muncul tetap perlu disikapi dengan penilaian rasional.

Isu ini penting karena menyangkut batas antara inovasi teknologi dan hak atas privasi. Di era ketika kamera tersebar di berbagai sudut kota dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, perangkat yang mampu merekam secara nyaris tak terlihat menambah lapisan baru dalam diskusi pengawasan. Kekhawatiran bukan hanya soal siapa yang merekam, tetapi juga bagaimana data tersebut disimpan, diproses, dan dimanfaatkan.

Bagi masyarakat umum, perkembangan ini membawa dua konsekuensi. Di satu sisi, teknologi kacamata pintar membuka peluang baru untuk komunikasi, dokumentasi, dan integrasi kecerdasan buatan dalam aktivitas harian. Di sisi lain, muncul kebutuhan untuk lebih sadar terhadap lingkungan digital yang tak selalu kasat mata. Aplikasi pendeteksi semacam ini mungkin belum menjadi solusi sempurna, tetapi setidaknya mencerminkan adanya permintaan akan transparansi yang lebih besar.

Persaingan di industri ini pun diperkirakan akan semakin ramai, dengan berbagai perusahaan teknologi besar dikabarkan tengah menyiapkan produk serupa. Jika tren berlanjut, perdebatan mengenai etika penggunaan, regulasi, dan perlindungan data hampir pasti akan semakin intens. Masa depan kacamata pintar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fiturnya, melainkan juga oleh seberapa serius produsen menjawab kekhawatiran publik terkait privasi.