Dimensity 9600 Ini Bisa Geser Snapdragon dari Ponsel Flagship China

MediaTek bersiap memasuki babak baru persaingan chipset kelas atas lewat Dimensity 9600, prosesor yang diperkirakan akan menjadi pilihan utama banyak ponsel flagship buatan produsen China. Meski belum diumumkan secara resmi, arah industri mulai terlihat jelas: semakin banyak merek besar mencari alternatif selain Qualcomm untuk produk paling premium mereka.

Selama bertahun-tahun, Qualcomm menjadi standar tidak tertulis untuk ponsel flagship Android. Namun generasi terbaru Snapdragon 8 Elite Gen 6 dan varian Pro-nya datang dengan harga yang disebut-sebut sangat mahal. Kondisi ini mendorong produsen ponsel, terutama di Asia, untuk menghitung ulang strategi mereka. Di sinilah Dimensity 9600 mulai dilirik sebagai solusi yang lebih rasional tanpa harus turun kelas.

Sejumlah bocoran dari Tiongkok mengindikasikan bahwa seri flagship mendatang dari Oppo dan Vivo, termasuk varian Pro Max bila dirilis, berpotensi menggunakan Dimensity 9600 alih-alih Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro. Jika benar, keputusan ini menunjukkan perubahan penting: chipset MediaTek kini dianggap cukup mumpuni untuk menjadi otak ponsel paling mahal, bukan sekadar alternatif menengah.

Salah satu daya tarik utama Dimensity 9600 adalah proses fabrikasi yang digunakan. Chip ini diperkirakan diproduksi dengan teknologi N2P dari TSMC, sebuah penyempurnaan dari proses 2nm standar. Secara teori, teknologi ini menawarkan peningkatan performa sekitar 5 persen dibanding N2 biasa. Ini menarik karena Apple sendiri kabarnya akan menggunakan versi non-P untuk chip A20 dan A20 Pro generasi berikutnya.

Keunggulan lain yang sering disebut adalah dukungan memori LPDDR6. Teknologi RAM ini menjanjikan bandwidth lebih tinggi, yang berdampak pada kinerja multitasking, pemrosesan AI, dan beban grafis berat. Di sisi Qualcomm, hanya varian Snapdragon paling mahal yang akan memakai LPDDR6, sementara versi non-Pro tetap bertahan di LPDDR5. Perbedaan ini berpotensi membuat ponsel berbasis Dimensity 9600 tampil lebih seimbang dari sisi harga dan kemampuan.

Namun tantangan tetap ada. Generasi Dimensity sebelumnya dikritik karena konsumsi daya yang kurang efisien, terutama akibat absennya inti hemat energi. Di saat yang sama, Apple justru berhasil meningkatkan performa signifikan tanpa menaikkan konsumsi daya lewat optimalisasi arsitektur. Artinya, MediaTek harus benar-benar memaksimalkan efisiensi Dimensity 9600 agar mampu bersaing di level tertinggi.

Topik ini penting karena menyangkut arah pasar smartphone flagship dalam beberapa tahun ke depan. Jika produsen besar mulai beralih dari Qualcomm ke MediaTek untuk model paling premium, peta persaingan chipset akan berubah. Dominasi satu pemain bisa bergeser menjadi persaingan yang lebih terbuka, yang pada akhirnya menekan harga dan mendorong inovasi lebih cepat.

Dampaknya terasa langsung pada konsumen. Persaingan yang lebih ketat berarti pilihan ponsel flagship dengan harga lebih masuk akal, tanpa harus mengorbankan performa atau fitur kelas atas. Dimensity 9600 bukan sekadar chip baru, melainkan simbol bahwa pasar flagship Android tidak lagi bergantung pada satu nama besar saja.