Awal 2026 dibuka dengan kegelisahan di kalangan penggemar The Sims. Bukan karena bug baru atau ekspansi yang mengecewakan, melainkan karena isu besar di balik layar. Electronic Arts, penerbit The Sims, berada di jalur menuju akuisisi senilai puluhan miliar dolar oleh konsorsium yang didominasi dana kekayaan Arab Saudi. Situasi ini memicu pertanyaan mendasar dari komunitas. Apakah identitas The Sims yang selama ini dikenal inklusif dan bebas berekspresi akan ikut berubah.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, tim pengembang The Sims menegaskan satu hal. Nilai yang menjadi fondasi seri ini disebut tidak bergeser. Mereka menyampaikan bahwa kendali kreatif masih berada di tangan tim internal, dengan prinsip yang sama seperti selama bertahun-tahun. Inklusivitas, kebebasan memilih, kreativitas, dan rasa kebersamaan diklaim tetap menjadi panduan utama dalam pengembangan game ke depan.
Pernyataan ini muncul setelah sejumlah kreator konten memilih menjauh dari jaringan resmi EA. Alasannya bukan sekadar bisnis, melainkan ketidakselarasan antara komunitas The Sims yang dikenal ramah terhadap beragam identitas dengan latar belakang politik dan sosial pihak-pihak yang terlibat dalam rencana akuisisi tersebut. Bagi banyak pemain, The Sims bukan hanya hiburan, tetapi ruang aman untuk bereksperimen dengan kehidupan, relasi, dan jati diri tanpa batasan.
Di sisi lain, Maxis sebagai studio pengembang juga mencoba meredam spekulasi tentang masa depan waralaba ini. Dalam pembaruan resmi, mereka menegaskan bahwa pengalaman single-player di PC dan konsol tidak akan ditinggalkan. Bahkan, lebih dari separuh tim pengembang global masih difokuskan untuk The Sims 4 dan sesuatu yang mereka sebut sebagai “evolusi berikutnya”.
Istilah ini sengaja dibuat samar, namun cukup untuk memancing harapan. Selama bertahun-tahun, penggemar menanti tanda-tanda penerus The Sims 4 yang kini berusia lebih dari satu dekade. Meski tidak ada konfirmasi soal The Sims 5, pernyataan tersebut menjadi sinyal pertama bahwa Maxis tidak menutup pintu bagi pengalaman baru yang lebih besar di masa depan.
Pada saat yang sama, Project Rene yang sempat digadang-gadang sebagai generasi selanjutnya kini diposisikan ulang. Proyek ini dipastikan sebagai game sosial dengan fokus mobile dan kolaborasi antar pemain, bukan pengganti The Sims 4. Dengan kata lain, jalur mobile dan jalur PC-konsol akan berjalan berdampingan, menyasar tipe pemain yang berbeda.
Namun, transisi ini tidak lepas dari tantangan. The Sims 4 telah membangun ekosistem ekspansi yang mahal dan kompleks. Banyak pemain telah menginvestasikan waktu dan uang dalam jumlah besar. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa game The Sims baru sering kali terasa “kosong” saat rilis awal, sebelum diperkaya oleh ekspansi berbayar. Kekhawatiran ini membuat sebagian pemain waspada, meski tetap berharap.
Sebagai bagian dari perombakan fokus mobile, EA juga mengumumkan penutupan The Sims Mobile. Game yang telah berjalan sejak 2017 itu akan dihentikan sepenuhnya, dengan seluruh kontennya tak lagi bisa dimainkan. Meski tidak dijelaskan secara terbuka, langkah ini diduga untuk memberi ruang bagi proyek mobile baru yang sedang dikembangkan.
Bagi pembaca dan pemain, isu ini penting karena menyentuh dua hal sekaligus. Pertama, soal nilai dan representasi dalam media hiburan yang kita konsumsi. Kedua, soal arah masa depan game yang telah menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang. Janji bahwa nilai The Sims tetap sama tentu menenangkan, tetapi kepercayaan komunitas tidak hanya dibangun lewat pernyataan, melainkan lewat keputusan nyata di dalam game.
Ke depan, pemain akan menilai apakah janji inklusivitas dan kebebasan itu benar-benar tercermin dalam konten, mekanik, dan kebijakan yang diambil. Bagi The Sims, tantangannya bukan hanya bertahan sebagai game, tetapi tetap relevan sebagai cerminan kehidupan modern yang beragam.

