Eksperimen Gila: Motherboard Intel Dipasangi Chipset AMD Bikin Software Bingung

Sebuah eksperimen unik dari komunitas hardware kembali menunjukkan sejauh apa batas kreativitas para penggemar teknologi. Di China, seorang enthusiast mencoba sesuatu yang hampir tidak pernah terpikirkan oleh pengguna biasa memasang chipset AMD ke dalam sistem berbasis Intel, bukan lewat motherboard khusus, melainkan melalui kartu ekspansi PCIe.

Untuk memahami kenapa hal ini menarik, kita perlu mundur sedikit ke konteksnya. Dalam dunia PC modern, chipset berperan sebagai penghubung utama antara prosesor dan berbagai perangkat tambahan seperti storage, SATA, dan jalur PCIe. Biasanya, chipset selalu satu ekosistem dengan CPU. Intel dengan Intel, AMD dengan AMD. Keduanya jarang, bahkan hampir tidak pernah, bercampur.

Namun pada kasus ini, sang penggemar menggunakan sebuah kartu PCIe tambahan yang membawa chip AMD Promontory 21. Chip ini bukan sembarang komponen. Ia adalah fondasi dari chipset kelas atas AMD seperti X670E dan X870E, yang pada motherboard normal biasanya dipakai berpasangan untuk menyediakan banyak jalur PCIe dan port SATA.

Kartu tambahan tersebut kemudian dipasang ke sebuah motherboard NAS kelas atas berbasis Intel Core Ultra 9 285H. Board ini sendiri sudah tergolong sangat kaya fitur, dengan memori kecepatan tinggi, jaringan 10GbE ganda, Thunderbolt, serta berbagai slot ekspansi. Tujuan percobaannya sederhana, melihat apa yang terjadi jika dunia Intel dan AMD dipaksa bertemu di level chipset.

Hasilnya cukup mengejutkan. Beberapa perangkat lunak sistem justru salah mengenali chip AMD tersebut sebagai chipset utama sistem. Dari sisi software, tampilannya seolah sebuah prosesor Intel dipasangkan dengan chipset AMD. Ini tentu bukan konfigurasi resmi, tetapi menunjukkan bagaimana sistem operasi dan utilitas membaca perangkat keras berdasarkan apa yang terhubung ke jalur PCIe.

Dari sisi fungsi, kartu ini bukan sekadar pajangan. Ia membawa tambahan empat slot M.2 dan empat port SATA. Beberapa slot M.2 mampu berjalan di PCIe Gen 4, sementara sisanya kemungkinan berbagi jalur atau berjalan di mode yang lebih lambat. Dengan kata lain, kartu ini benar-benar memperluas kemampuan penyimpanan sebuah motherboard yang sebenarnya sudah sangat lengkap.

Kenapa topik ini penting? Karena eksperimen semacam ini membuka wawasan tentang fleksibilitas arsitektur PC modern. PCIe semakin menjelma menjadi tulang punggung universal, memungkinkan fungsi yang dulu hanya bisa dilakukan oleh chipset onboard kini dipindahkan ke kartu ekspansi. Ini juga menunjukkan bahwa batas antara platform Intel dan AMD di level tertentu tidak selalu sekaku yang dibayangkan.

Bagi pembaca, terutama yang tertarik pada PC, NAS, atau server rumahan, eksperimen ini memberi gambaran masa depan. Bukan mustahil suatu hari ekspansi storage, I/O, atau fitur tertentu tidak lagi bergantung penuh pada chipset bawaan motherboard. Meski proyek seperti ini masih sebatas hobi dan eksperimen ekstrem, ia menjadi bukti bahwa inovasi sering lahir dari rasa ingin tahu, bukan dari produk resmi.

Singkatnya, ini bukan soal siapa lebih unggul antara Intel atau AMD, melainkan tentang bagaimana standar terbuka seperti PCIe memungkinkan ide-ide tak biasa menjadi kenyataan, bahkan ketika itu berarti menyatukan dua dunia yang biasanya terpisah.