Samsung selama ini dikenal bukan hanya karena ponsel flagship-nya yang canggih, tetapi juga karena strategi promosi yang agresif. Diskon besar, bonus kapasitas memori, hingga penawaran tukar tambah menjadi daya tarik utama, terutama bagi pembeli seri Ultra. Namun, situasi itu berpotensi berubah pada Galaxy S26 Ultra.
Dalam beberapa pekan terakhir, sinyal kenaikan harga mulai muncul dari internal Samsung sendiri. Para petinggi perusahaan mengakui bahwa tekanan biaya produksi semakin berat, dan ponsel pintar tidak lagi kebal terhadap kondisi global. Ini bukan sekadar isu bisnis internal, melainkan cerminan perubahan besar di industri teknologi.
Apa yang Sedang Terjadi di Balik Layar
Akar masalahnya ada pada lonjakan harga memori. Permintaan komponen RAM dan penyimpanan melonjak drastis akibat ledakan teknologi kecerdasan buatan. Banyak kapasitas pabrik dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pusat data AI, sehingga pasokan untuk produk konsumen seperti smartphone menjadi lebih terbatas.
Akibatnya, biaya membuat satu unit ponsel meningkat. Samsung, meskipun merupakan salah satu produsen memori terbesar di dunia, tetap terdampak. Dalam kondisi seperti ini, menaikkan harga jual menjadi opsi yang sulit dihindari.
Jika rencana ini benar-benar diterapkan, Galaxy S26 Ultra diperkirakan akan dibanderol lebih mahal dibanding pendahulunya. Kenaikannya mungkin terlihat “tidak ekstrem” di atas kertas, tetapi efek lanjutannya justru lebih mengkhawatirkan.
Kenapa Ini Penting bagi Konsumen
Masalah terbesarnya bukan hanya harga awal yang lebih tinggi, melainkan potensi hilangnya promosi khas Samsung. Selama bertahun-tahun, Samsung kerap menawarkan bonus peningkatan memori gratis saat pre-order, misalnya membeli versi 256GB tetapi mendapatkan 512GB. Nilai promosi ini bisa setara jutaan rupiah.
Jika biaya produksi melonjak, ruang bagi Samsung untuk memberi potongan besar akan menyempit. Artinya, ponsel flagship dengan harga “terasa masuk akal” saat promo besar seperti Black Friday bisa menjadi hal langka.
Sebagai gambaran, sebelumnya konsumen masih bisa mendapatkan Galaxy Ultra dengan memori besar di kisaran harga menengah atas setelah diskon. Ke depan, skenario tersebut bisa jadi mustahil, bahkan saat periode diskon besar.
Strategi Baru yang Mungkin Diambil Samsung
Samsung kemungkinan tidak tinggal diam. Jika diskon langsung semakin sulit, perusahaan bisa mengalihkan promosi ke bentuk lain. Misalnya, bonus perangkat pendamping seperti tablet atau jam pintar, atau langganan aplikasi premium selama setahun.
Pendekatan ini sebenarnya sudah mulai terlihat. Samsung beberapa kali memberikan akses gratis ke layanan berbasis AI dan hiburan digital untuk pembeli perangkat Galaxy. Ke depan, strategi semacam ini bisa menjadi andalan, karena tidak memangkas margin keuntungan secara langsung seperti diskon harga.
Opsi lain yang beredar adalah penyesuaian harga pada lini ponsel kelas menengah. Dengan menaikkan harga seri yang lebih murah, Samsung bisa menahan kenaikan harga Galaxy S26 agar tidak terlalu mencolok. Namun, strategi ini juga berisiko mengurangi daya saing di segmen yang sangat sensitif terhadap harga.
Dampaknya bagi Calon Pembeli Galaxy S26 Ultra
Bagi konsumen, kondisi ini berarti satu hal penting: strategi berburu promo mungkin harus berubah. Jangan lagi berharap diskon besar dalam waktu singkat setelah peluncuran. Nilai terbaik bisa jadi bukan berasal dari potongan harga, melainkan dari paket bonus atau layanan tambahan.
Kenaikan harga Galaxy S26 Ultra juga menjadi sinyal bahwa era flagship premium “murah karena promo” perlahan mendekati akhir. Dengan AI terus menyedot sumber daya industri teknologi, tekanan biaya kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Singkatnya, Galaxy S26 Ultra masih akan menjadi ponsel kelas atas yang menggoda. Namun, bagi pembeli, tantangan ke depannya bukan lagi memilih spesifikasi, melainkan menentukan kapan dan dengan skema apa pembelian paling masuk akal dilakukan.

