Bos Hasbro Pastikan AI Generatif Tidak Digunakan di Magic dan D&D

Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam industri kreatif masih terus berlangsung. Banyak perusahaan teknologi maupun hiburan berlomba memanfaatkan teknologi tersebut untuk mempercepat proses produksi. Namun tidak semua merek besar mengikuti arus tersebut.

CEO Hasbro, Chris Cocks, baru-baru ini menegaskan bahwa dua waralaba permainan paling populer milik perusahaan, Magic: The Gathering dan Dungeons & Dragons, tidak akan menggunakan teknologi AI generatif dalam produk resminya. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara di podcast Decoder milik The Verge.

Menurut Cocks, keputusan tersebut dipengaruhi oleh sikap komunitas kreator dan penggemar dari kedua permainan tersebut. Ia menjelaskan bahwa ada sejumlah merek yang audiensnya memang tidak menginginkan kehadiran AI dalam proses kreatif.

Karena alasan itu, Hasbro bahkan tidak memasukkan teknologi tersebut dalam rencana pengembangan untuk video game, Magic: The Gathering, maupun Dungeons & Dragons.

Sikap ini cukup menarik karena sebelumnya Cocks pernah menyatakan pandangan berbeda. Pada akhir 2024, ia sempat mengatakan bahwa integrasi AI dalam permainan seperti Dungeons & Dragons kemungkinan tidak terhindarkan. Saat itu ia bahkan mengaku menggunakan berbagai alat AI untuk membantu menjalankan sesi permainan pribadi.

Seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya kritik terhadap penggunaan AI dalam karya kreatif, pandangan tersebut tampaknya mulai berubah. Dalam wawancara terbaru, Cocks menggambarkan penggunaan AI generatif dalam proses kreatif sebagai situasi “garbage in, garbage out”. Ia menekankan bahwa ide terbaik tetap datang dari manusia.

Kontroversi terkait AI di kedua waralaba ini sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Pada 2023, komunitas penggemar Dungeons & Dragons dibuat heboh setelah diketahui bahwa beberapa ilustrasi dalam buku sumber edisi kelima berjudul Bigby Presents: Glory of the Giants dibuat sebagian menggunakan AI generatif oleh ilustratornya.

Temuan tersebut memicu kritik keras dari komunitas. Hasbro melalui Wizards of the Coast akhirnya mencetak ulang buku tersebut dengan ilustrasi baru yang sepenuhnya dibuat oleh seniman manusia. Perusahaan juga menetapkan pedoman yang melarang penggunaan AI generatif dalam proses kreatif Dungeons & Dragons.

Pedoman serupa kemudian diterapkan pada tim Magic: The Gathering pada tahun yang sama. Namun kebijakan tersebut sempat diuji ketika materi pemasaran untuk set kartu Ravnica Remastered diketahui menggunakan elemen visual berbasis AI. Saat itu Wizards of the Coast awalnya menyatakan bahwa gambar tersebut dibuat manusia, tetapi kemudian mengeluarkan permintaan maaf setelah kritik kembali muncul.

Serangkaian kejadian tersebut menunjukkan betapa sensitifnya isu AI dalam komunitas permainan tabletop. Banyak seniman dan penggemar merasa teknologi generatif berpotensi mengurangi peran kreator manusia serta memanfaatkan karya seni yang telah ada tanpa izin yang jelas.

Di sisi lain, Cocks tidak sepenuhnya menolak teknologi tersebut dalam kehidupan pribadinya. Ia mengaku masih menggunakan berbagai alat AI untuk membantu sesi permainan Dungeons & Dragons di rumah, termasuk untuk membuat animasi, gambar, teks, hingga efek suara.

Meski demikian, ia memastikan bahwa teknologi tersebut tidak akan digunakan dalam produk resmi yang dikembangkan oleh Wizards of the Coast untuk saat ini. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa Hasbro mencoba menjaga kepercayaan komunitas kreator dan penggemar yang selama ini menjadi fondasi kesuksesan kedua waralaba tersebut.

Di tengah maraknya adopsi AI di berbagai industri kreatif, langkah Hasbro menunjukkan bahwa pendekatan teknologi tidak selalu hanya soal efisiensi. Dalam beberapa kasus, menjaga nilai kreativitas manusia dan hubungan dengan komunitas justru menjadi pertimbangan yang lebih penting.