Jutaan Tentara Dipertaruhkan dalam Adu Tegang Brendan Fraser dan Andrew Scott di Tengah Badai D-Day

Film bertema Perang Dunia II kembali mengangkat salah satu momen paling menentukan dalam sejarah modern. Kali ini, sorotan diarahkan pada detik detik menjelang pendaratan Sekutu di Normandia pada 1944, operasi militer raksasa yang kemudian dikenal sebagai D Day. Lewat film berjudul Pressure, penonton diajak masuk ke ruang rapat penuh ketegangan tempat keputusan besar diambil, bukan ke garis depan pertempuran.

Disutradarai oleh Anthony Maras yang sebelumnya menggarap Hotel Mumbai, film ini menempatkan dua tokoh nyata sebagai pusat cerita. Brendan Fraser memerankan Jenderal Dwight D. Eisenhower, Panglima Tertinggi Sekutu yang memegang kendali akhir atas pelaksanaan invasi. Sementara Andrew Scott tampil sebagai Kapten James Stagg, ahli meteorologi Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang bertugas memprediksi cuaca pada saat genting tersebut.

Latar waktunya hanya 72 jam sebelum operasi besar dimulai. Seluruh persiapan militer telah dirancang matang, ribuan kapal dan jutaan personel siap bergerak. Namun satu faktor krusial belum bisa dipastikan, yaitu kondisi cuaca di Selat Inggris dan pantai Normandia. Gelombang tinggi, badai, dan awan tebal dapat menggagalkan pendaratan dan menimbulkan korban dalam jumlah masif. Di sisi lain, penundaan berisiko membocorkan rencana kepada Jerman.

Cuplikan trailer memperlihatkan adu argumen sengit di ruangan sempit yang dipenuhi ketegangan. Eisenhower digambarkan sebagai pemimpin yang menyadari besarnya tanggung jawab di pundaknya. Stagg, di sisi lain, berdiri pada keyakinan ilmiah bahwa badai yang mendekat bukan sekadar kemungkinan kecil. Konflik keduanya bukan tentang ego, melainkan tentang bagaimana membaca alam demi menyelamatkan ribuan nyawa.

Kisah ini penting karena memperlihatkan sisi lain perang yang jarang dibahas. Sejarah kerap menampilkan heroisme di medan tempur, padahal keputusan di balik meja strategi sering kali sama menentukan. Perubahan tanggal pendaratan Normandia yang dipicu prediksi cuaca terbukti memengaruhi jalannya perang dan mempercepat pembebasan Eropa Barat dari pendudukan Nazi.

Dengan pendekatan drama tegang berbasis hitung mundur waktu, film ini juga menambah perspektif baru terhadap peristiwa yang sebelumnya diangkat dalam Darkest Hour dan Dunkirk. Jika dua film tersebut menyorot kepemimpinan politik dan ketegangan di medan evakuasi, Pressure memilih fokus pada sains, intuisi, dan beban moral seorang pengambil keputusan.

Kehadiran Fraser menjadi sorotan tersendiri setelah keberhasilannya meraih Oscar lewat The Whale. Perannya sebagai Eisenhower menuntut wibawa sekaligus kerentanan, menggambarkan pemimpin yang harus memilih di tengah ketidakpastian. Sementara Scott menghadirkan sosok ilmuwan yang tertekan oleh kenyataan bahwa satu prediksi keliru bisa berakibat fatal.

Bagi penikmat film sejarah, karya ini menawarkan sudut pandang yang lebih intim dan psikologis tentang Perang Dunia II. Bagi yang tertarik pada kepemimpinan dan pengambilan keputusan, cerita ini menjadi refleksi bahwa data, intuisi, dan keberanian sering kali bertemu dalam situasi yang tidak memberi ruang untuk kesalahan. Di tengah dunia yang masih dipenuhi krisis dan ketidakpastian, kisah tentang keputusan besar dalam tekanan ekstrem terasa relevan dan menggugah.