Karyawan Ubisoft Merasa Malu, Marah, Putus Asa Sampai Merasa Ditinggalkan

Di balik nama besar Ubisoft sebagai salah satu raksasa industri gim dunia, suasana di dalam perusahaan saat ini jauh dari kata stabil. Dalam beberapa pekan terakhir, gelombang kekecewaan dan kemarahan mencuat dari para pengembang internal, memperlihatkan krisis kepercayaan yang semakin dalam antara manajemen puncak dan orang-orang yang mengerjakan gimnya.

Akar masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak beberapa proyek besar gagal memenuhi ekspektasi pasar, terutama setelah sejumlah judul beranggaran tinggi dianggap hambar dan kehilangan identitas kreatif, Ubisoft terus mencari jalan keluar. Perusahaan berulang kali merombak struktur organisasi, menunda dan membatalkan proyek, serta menjanjikan perubahan besar agar bisa kembali relevan. Namun bagi banyak karyawan, langkah-langkah itu terasa seperti pengulangan pola lama yang tidak pernah benar-benar menyentuh inti persoalan.

Kondisi tersebut memuncak ketika manajemen mengumumkan serangkaian keputusan berat. Penundaan gim, penghentian proyek, pemangkasan biaya, hingga restrukturisasi internal disampaikan secara serentak. Dampaknya bukan hanya pada laporan keuangan perusahaan yang merosot tajam, tetapi juga pada rasa aman lebih dari lima belas ribu pegawai di berbagai negara. Banyak dari mereka mengetahui kabar itu bersamaan dengan publik, lewat pesan singkat dari pimpinan tertinggi perusahaan di akhir hari kerja.

Di tengah janji untuk kembali pada jati diri kreatif dan menyederhanakan birokrasi, terselip keputusan yang memicu reaksi keras. Kebijakan kerja jarak jauh yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu keuntungan bekerja di Ubisoft dibatalkan. Karyawan diminta kembali bekerja dari kantor hampir penuh, dengan alasan meningkatkan kolaborasi dan kecepatan produksi. Bagi sebagian besar staf, keputusan ini terasa sepihak dan tidak didukung penjelasan berbasis data.

Responsnya cepat dan keras. Serikat pekerja di Prancis menyerukan aksi mogok, menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap kondisi kerja yang telah disepakati sebelumnya. Di forum internal perusahaan, keluhan mengalir deras. Banyak pengembang khawatir kebijakan ini justru akan mendorong talenta berpengalaman untuk hengkang, sementara kesalahan strategis masa lalu tidak pernah benar-benar dipertanggungjawabkan oleh manajemen.

Kekecewaan itu tidak berhenti pada soal tempat kerja. Ada rasa lelah yang lebih mendalam terhadap arah kreatif perusahaan. Beberapa karyawan menilai Ubisoft terlalu sering mengejar tren pasar yang sudah jenuh, menghilangkan sisi berani dari proyek-proyeknya, dan mengambil keputusan penting secara tertutup. Investasi besar pada gim layanan jangka panjang yang gagal menarik pemain dijadikan contoh nyata dari strategi yang dipertanyakan.

Situasi ini penting karena mencerminkan tantangan besar industri gim modern. Ketika biaya produksi membengkak dan persaingan semakin ketat, keseimbangan antara efisiensi bisnis dan kebebasan kreatif menjadi rapuh. Jika perusahaan sebesar Ubisoft kesulitan mempertahankan kepercayaan tim internalnya, dampaknya bisa terasa luas, mulai dari kualitas gim yang dirilis hingga stabilitas tenaga kerja kreatif di industri ini.

Bagi publik dan penggemar gim, konflik internal semacam ini bukan sekadar drama perusahaan. Keputusan manajemen dan kondisi kerja pengembang berpengaruh langsung pada jenis pengalaman yang akhirnya hadir di layar. Apakah gim-gim besar akan terasa segar dan berani, atau kembali aman dan generik, sering kali ditentukan jauh sebelum peluncuran, di ruang rapat dan kebijakan internal seperti yang kini diperdebatkan di Ubisoft.