Ketika Pengadilan Menggunakan AI, Nasib Terdakwa Ditentukan dalam 90 Menit

Film fiksi ilmiah kerap menjadi ruang untuk menguji kecemasan zaman, dan Mercy memilih jalur yang relevan dengan kehidupan hari ini. Berlatar Los Angeles pada 2029, film ini membayangkan sebuah sistem hukum yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan buatan. Tidak ada hakim manusia, tidak ada juri, tidak ada ruang abu-abu emosional. Segala keputusan ditentukan oleh satu entitas digital yang dingin dan absolut.

Cerita berpusat pada Chris Raven, seorang detektif kepolisian yang selama ini justru menjadi wajah keberhasilan sistem baru tersebut. Ia dikenal sebagai aparat pertama yang berhasil membawa terdakwa pada vonis bersalah lewat mekanisme pengadilan berbasis AI bernama Mercy. Sistem ini menjanjikan keadilan cepat, objektif, dan bebas bias manusia. Setiap terdakwa hanya diberi waktu 90 menit untuk membela diri sebelum keputusan final dijatuhkan.

Situasi berubah drastis ketika Raven terbangun dalam kursi terdakwa, dalam kondisi mabuk berat dan tanpa ingatan apa pun. Tuduhan yang diarahkan kepadanya bukan perkara kecil, melainkan pembunuhan terhadap istrinya sendiri. Hakim yang akan menentukan nasibnya adalah Maddox, sosok AI berbentuk hologram dengan wajah Rebecca Ferguson, yang bekerja berdasarkan data, rekaman, dan algoritma tanpa mempertimbangkan penyesalan atau kebingungan emosional.

Dari titik inilah Mercy bergerak sebagai thriller real time. Raven harus menyusun ulang potongan hidupnya sendiri melalui arsip kamera tubuh polisi, rekaman pengawasan kota, catatan telepon, serta komunikasi dengan rekan dan keluarga. Proses ini bukan hanya pencarian alibi, tetapi juga upaya mempertanyakan apakah kebenaran dapat direduksi menjadi kumpulan data semata.

Yang membuat film ini menarik bukan sekadar ketegangannya, melainkan cara ia memotret relasi manusia dengan teknologi yang diciptakan untuk mengatur hidup mereka. Sistem Mercy digambarkan sebagai solusi atas sistem hukum yang lamban dan korup, tetapi justru menghadirkan bentuk ketidakadilan baru. Ketika algoritma menjadi satu-satunya penentu benar dan salah, ruang untuk kesalahan sistemik nyaris tidak ada, sementara dampaknya bersifat mutlak.

Isu ini penting karena semakin dekat dengan kenyataan. Di berbagai belahan dunia, kecerdasan buatan telah digunakan untuk menilai risiko kriminal, menentukan hukuman, hingga memengaruhi keputusan administratif yang berdampak langsung pada kehidupan seseorang. Mercy mendorong pertanyaan mendasar: sejauh mana kepercayaan pantas diberikan kepada sistem yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban secara moral.

Film ini juga tidak sepenuhnya memposisikan AI sebagai musuh tunggal. Ada nuansa ambigu yang terasa sengaja dipertahankan. Di satu sisi, teknologi digambarkan efisien dan nyaris tak bisa dibantah. Di sisi lain, ia tetap diciptakan, dilatih, dan dijalankan oleh manusia dengan segala keterbatasannya. Ketegangan inilah yang menjadi bahan bakar utama cerita, meski pada bagian akhir film cenderung bergeser ke aksi berskala besar yang lebih konvensional.

Dari sisi industri, Mercy hadir sebagai penantang serius di box office awal tahun. Film ini menjadi rilisan besar pertama Amazon MGM pada 2026, dengan target pendapatan pembuka antara 10 hingga 13 juta dolar AS di Amerika Utara. Ambisi tersebut cukup berani mengingat Mercy harus berhadapan dengan Avatar: Fire and Ash yang masih bertahan kuat meski telah memasuki pekan keenam penayangan. Pertarungan ini menandai upaya studio memperkuat posisi mereka di pasar bioskop, setelah lama berfokus pada layanan streaming.

Bagi khalayak luas, Mercy menawarkan lebih dari sekadar hiburan futuristik. Ia mengajak merenungkan harga yang harus dibayar ketika kenyamanan dan kecepatan dijadikan alasan untuk menyerahkan keputusan paling krusial kepada mesin. Film ini juga menyentuh ketakutan yang mungkin jarang diucapkan secara terang-terangan: bagaimana jika suatu hari sistem yang dipercaya menjaga keadilan justru tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan siapa diri seseorang sebenarnya.

Dengan premis yang cerdas dan eksekusi yang solid, Mercy berdiri sebagai cermin yang sedikit dibengkokkan dari realitas hari ini. Sebuah pengingat bahwa kemajuan teknologi selalu datang bersama konsekuensi, dan bahwa keadilan, betapapun canggih alatnya, tetap menyisakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh angka dan kode semata.