MacBook Neo Laris di Pasar Murah, Apple Diprediksi Jual Jutaan Unit Meski Tanpa Layar Sentuh

Apple akhirnya memasuki segmen laptop yang lebih terjangkau melalui peluncuran MacBook Neo. Perangkat ini menjadi salah satu produk yang paling banyak diperbincangkan karena membawa pengalaman MacBook dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan lini laptop Apple sebelumnya.

Laptop baru tersebut dipasarkan dengan harga sekitar 599 dolar AS, menjadikannya salah satu MacBook paling murah yang pernah dirilis perusahaan. Strategi ini dianggap sebagai langkah penting bagi Apple untuk memperluas jangkauan pasar, terutama bagi pengguna yang sebelumnya menganggap perangkat Mac terlalu mahal.

Analis rantai pasokan teknologi Ming-Chi Kuo memperkirakan MacBook Neo dapat terjual antara 4,5 juta hingga 5 juta unit sepanjang tahun ini. Angka tersebut sedikit lebih rendah dari prediksi awal yang sempat menyebut potensi penjualan mencapai 7 juta unit.

Penyesuaian estimasi ini dilakukan karena waktu peluncuran perangkat sedikit lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut tetap menunjukkan potensi permintaan yang cukup besar untuk laptop Apple dengan harga lebih terjangkau.

Kuo memperkirakan sekitar 2 hingga 2,5 juta unit MacBook Neo dapat terjual pada paruh pertama tahun ini saja. Jika tren tersebut berlanjut, perangkat ini berpotensi menjadi salah satu produk Mac dengan adopsi tercepat di kelasnya.

Dari sisi desain dan spesifikasi, MacBook Neo hadir dengan layar sekitar 13 inci dan menggunakan chip A18 Pro. Prosesor tersebut merupakan varian yang juga digunakan pada perangkat mobile Apple, namun telah dioptimalkan untuk kebutuhan komputasi laptop.

Apple juga menawarkan beberapa pilihan warna yang cukup berani untuk standar MacBook. Perangkat ini tersedia dalam warna silver, indigo, blush, dan citrus. Pilihan warna yang lebih cerah tersebut dinilai sebagai upaya Apple menarik pengguna muda serta pasar pendidikan.

Untuk produksi awal, perusahaan manufaktur Quanta disebut menjadi perakit utama MacBook Neo. Namun analis industri memperkirakan perusahaan lain seperti Foxconn dapat ikut terlibat dalam proses produksi di masa mendatang jika permintaan terus meningkat.

Selain itu, perusahaan teknologi asal China, Luxshare, juga disebut berpotensi menjadi kandidat baru dalam rantai produksi perangkat tersebut di masa depan.

Salah satu hal yang sempat menjadi spekulasi adalah kemungkinan hadirnya layar sentuh pada generasi berikutnya. Banyak pihak menilai fitur tersebut dapat membantu Apple bersaing dengan laptop berbasis Chrome OS, di mana lebih dari separuh perangkatnya sudah mendukung layar sentuh.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan kemungkinan tersebut semakin kecil. Berdasarkan informasi dari rantai pasokan, generasi kedua MacBook Neo kemungkinan tetap tidak akan menggunakan layar sentuh.

Keputusan ini dianggap selaras dengan strategi Apple yang ingin menjaga diferensiasi produk. MacBook Neo difokuskan untuk menghadirkan pengalaman MacBook dengan harga terjangkau, sementara inovasi yang lebih premium kemungkinan akan disimpan untuk lini produk kelas atas.

Jika rencana tersebut berjalan sesuai arah saat ini, laptop Apple pertama yang benar-benar menggunakan layar sentuh kemungkinan hadir pada model yang jauh lebih mahal.

Dalam laporan yang sama, Kuo juga membahas rencana Apple terkait penggunaan panel OLED pada laptop masa depan. Teknologi layar ini dikenal mampu menghasilkan warna lebih tajam, kontras lebih tinggi, serta efisiensi daya yang lebih baik dibandingkan panel LCD tradisional.

Laptop Apple pertama dengan layar OLED diperkirakan akan muncul pada lini MacBook Pro. Perangkat tersebut disebut dapat meluncur pada akhir 2026 atau awal 2027.

Sementara itu, pengguna yang menunggu MacBook Air dengan teknologi layar yang sama mungkin harus lebih bersabar. Versi OLED untuk MacBook Air diprediksi baru akan hadir sekitar tahun 2028 atau 2029.

Peralihan ke layar OLED pada laptop Apple dipandang sebagai langkah besar berikutnya dalam evolusi desain MacBook. Teknologi ini sebelumnya sudah digunakan secara luas pada iPhone dan Apple Watch.

Jika strategi tersebut berhasil, Apple berpotensi memperkuat posisinya di pasar laptop premium sekaligus tetap memperluas basis pengguna melalui perangkat seperti MacBook Neo yang lebih terjangkau.