MediaTek Dimensity 9500s Bikin Snapdragon 8 Gen 5 Waspada

MediaTek kembali menunjukkan keberanian mengambil jalan berbeda dalam persaingan chipset ponsel kelas atas. Melalui Dimensity 9500s, perusahaan asal Taiwan ini memilih pendekatan yang tidak lazim dengan memanfaatkan kelemahan yang selama ini dianggap krusial pada desain prosesor modern, lalu menutupinya dengan strategi teknis yang tidak kalah berani.

Selama beberapa tahun terakhir, persaingan chipset smartphone cenderung bergerak ke arah yang seragam. Produsen berlomba memakai inti CPU generasi terbaru, proses fabrikasi paling mutakhir, dan klaim lonjakan performa berbasis angka benchmark. Dalam lanskap seperti ini, MediaTek justru mengambil langkah yang berlawanan. Dimensity 9500s tidak sepenuhnya mengandalkan inti CPU paling baru, sesuatu yang kerap dipandang sebagai kekurangan, terutama jika dibandingkan dengan pesaing yang memakai arsitektur terbaru.

Pendekatan ini mengingatkan pada keputusan Google saat merancang Tensor G5, yang memilih inti CPU generik ARM berusia beberapa tahun. Konsekuensinya jelas. Secara teori, performa mentah dan efisiensi energi akan tertinggal dibanding chip yang memakai inti generasi terkini. MediaTek menyadari risiko tersebut dan tampaknya sengaja mengadopsi titik lemah serupa. Namun, perbedaannya terletak pada cara mengatasinya.

Alih-alih mengejar inti CPU terbaru, MediaTek memperkuat fondasi lain yang sering luput dari sorotan publik, yakni sistem cache. Dimensity 9500s dibekali total cache CPU hingga 19MB, angka yang tergolong sangat besar di kelasnya. Di dalamnya terdapat cache L3 sebesar 12MB serta System Level Cache 10MB. Kombinasi ini dirancang untuk memangkas jarak antara prosesor dan memori utama, sehingga data yang sering dipakai tidak perlu bolak-balik diambil dari RAM yang lebih lambat dan boros daya.

Untuk memahami signifikansinya, perlu melihat peran cache dalam kinerja sehari-hari. Cache bekerja sebagai ruang penyimpanan super cepat di dalam chip, menampung instruksi dan data yang paling sering diakses. Semakin besar dan efisien cache, semakin kecil latensi yang dirasakan sistem, serta semakin hemat konsumsi energi. Dengan kata lain, cache besar dapat menutupi keterbatasan inti CPU yang tidak lagi berada di garis terdepan inovasi.

Dimensity 9500s sendiri mengusung desain CPU all-big-core, terdiri dari satu inti Cortex-X925 berkecepatan hingga 3,73GHz, tiga inti Cortex-X4, dan empat inti Cortex-A720. Untuk grafis, MediaTek menyematkan GPU Immortalis-G925 dengan dukungan ray tracing. Chip ini diproduksi menggunakan proses 3nm TSMC dan dilengkapi NPU untuk kebutuhan kecerdasan buatan, serta dukungan memori dan penyimpanan generasi terbaru.

Jika dibandingkan dengan Snapdragon 8 Gen 5, terlihat perbedaan filosofi yang cukup tajam. Qualcomm mengandalkan inti Oryon generasi ketiga dengan konfigurasi performa dan efisiensi yang lebih konvensional. MediaTek justru menaruh taruhan pada optimalisasi cache dan desain sistem secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar spesifikasi inti CPU.

Langkah ini penting karena mencerminkan perubahan cara pandang dalam pengembangan chipset. Ketergantungan pada memori DRAM yang semakin mahal menjadi tantangan serius bagi industri. Dengan cache besar di dalam chip, ketergantungan tersebut bisa ditekan. Jika strategi ini terbukti efektif dalam pengujian nyata, bukan tidak mungkin pendekatan serupa akan diadopsi lebih luas, terutama untuk chipset non-flagship yang harus menyeimbangkan biaya dan kinerja.

Bagi ekosistem pengguna ponsel pintar, dampaknya berpotensi terasa dalam jangka menengah. Optimalisasi seperti ini dapat menghadirkan perangkat dengan performa stabil dan efisiensi daya lebih baik, tanpa harus selalu mengandalkan teknologi paling mahal dan terbaru. Hasil akhirnya bisa berupa ponsel dengan daya tahan baterai lebih baik, performa konsisten dalam penggunaan harian, serta harga yang lebih terkendali.

Meski demikian, efektivitas strategi MediaTek masih menunggu pembuktian melalui hasil benchmark dan penggunaan nyata. Jika angka-angka tersebut mampu menunjukkan bahwa cache besar benar-benar mengimbangi usia inti CPU, Dimensity 9500s bisa menjadi contoh bahwa inovasi tidak selalu berarti mengikuti arus, melainkan berani menata ulang prioritas desain.