Netflix kembali memperluas portofolio animasinya dengan mengakuisisi film stop motion pertama asal Meksiko berjudul I Am Frankelda atau Soy Frankelda. Karya ini digarap oleh dua sineas bersaudara, Arturo dan Roy Ambriz, dan dijadwalkan tayang secara global tahun ini.
Langkah ini bukan sekadar pembelian hak distribusi biasa. Film tersebut menandai tonggak penting dalam industri animasi Meksiko karena menjadi film panjang stop motion pertama dari negara itu. Selama ini, teknik stop motion dikenal membutuhkan ketelitian ekstrem, waktu produksi panjang, serta biaya yang tidak kecil. Di ranah global, teknik ini sering diasosiasikan dengan proyek-proyek artistik berkelas yang menonjolkan detail visual dan kedalaman cerita.
Kedua pembuatnya bukan nama sembarangan. Arturo dan Roy Ambriz dikenal sebagai anak didik dari sutradara peraih Oscar, Guillermo del Toro. Karya stop motion Del Toro, Guillermo del Toro’s Pinocchio, bahkan memenangkan Academy Award untuk kategori animasi terbaik. Dukungan moral dan apresiasi dari sosok sebesar Del Toro memberi bobot tersendiri bagi film ini. Ia menyebut proyek tersebut sebagai pencapaian penting dalam sejarah animasi stop motion Meksiko.
Secara cerita, I Am Frankelda mengambil latar Meksiko abad ke 19 dan berfokus pada Frankelda, seorang penulis berbakat dengan imajinasi gelap yang kerap diabaikan. Karya-karyanya diremehkan, suaranya ditekan, dan keberadaannya seolah tidak diakui. Namun keadaan berubah ketika ia terseret ke dalam alam bawah sadarnya sendiri. Di sana, makhluk-makhluk yang lahir dari imajinasinya menjelma nyata.
Dalam dunia yang berada di antara mimpi dan mimpi buruk, Frankelda bertemu Herneval, seorang pangeran yang terperangkap dalam konflik batin. Keduanya harus menjaga keseimbangan antara realitas dan dunia fiksi agar tidak runtuh. Ancaman juga datang dari sosok penulis jahat bernama Procustes yang berambisi mengambil alih kendali. Hubungan Frankelda dan Herneval berkembang menjadi kekuatan sekaligus sumber kerentanan. Untuk menentukan nasibnya sendiri, Frankelda harus menghadapi cinta yang terasa mustahil sekaligus merebut kembali kendali atas imajinasinya.
Film ini dikembangkan melalui studio Cinema Fantasma yang berbasis di Mexico City, didirikan oleh kedua bersaudara tersebut. Mereka menulis, menyutradarai, sekaligus memproduksi proyek ini secara mandiri. Selain dirilis secara global oleh Netflix, film ini juga masuk dalam nominasi Best Independent Feature di ajang Annie Awards ke 53, salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia animasi.
Kehadiran I Am Frankelda penting karena memperlihatkan bagaimana industri kreatif di luar pusat produksi tradisional seperti Amerika Serikat atau Jepang mampu melahirkan karya animasi berskala internasional. Ini membuka peluang lebih luas bagi sineas Amerika Latin untuk menembus pasar global tanpa harus kehilangan identitas budaya.
Bagi penikmat film, kehadiran karya ini menawarkan alternatif tontonan animasi yang lebih dewasa, puitis, dan sarat simbol. Sementara bagi pelaku industri kreatif, keberhasilan akuisisi oleh Netflix menjadi bukti bahwa visi kuat, ketekunan, dan ciri khas lokal dapat menarik perhatian platform distribusi global. Film ini bukan hanya cerita tentang seorang penulis yang berjuang mempertahankan suaranya, tetapi juga refleksi tentang daya tahan imajinasi di tengah tekanan dan penolakan.

