PC Makin Canggih Tapi Windows terlihat Kehilangan Arah

Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan pada perangkat keras PC terasa luar biasa. Laptop semakin tipis dan ringan, prosesor lebih cepat dan hemat energi, layar lebih tajam, dan daya tahan baterai semakin lama. Bahkan perangkat dengan harga terjangkau kini mulai menyaingi kualitas laptop premium beberapa tahun lalu. Contohnya, ASUS Zenbook A14 yang sering dijual sekitar 600 dolar (sekitar Rp.10 jutaan), menawarkan desain tipis, ringan, dan baterai tahan lama yang jarang ditemui pada kelas harganya. Kehadiran chip Qualcomm Snapdragon X pada 2024 juga membuka segmen baru dalam pasar laptop, menambah variasi pilihan bagi konsumen.

Perusahaan seperti Lenovo bahkan mendorong batas desain perangkat. Konsep laptop Legion Pro Rollable yang dapat berubah menjadi layar ultrawide, atau Yoga AIO i Aura Edition yang tampak mengambang, menunjukkan bahwa kreativitas produsen tidak terbatas. HP menghadirkan mini PC yang terintegrasi dengan keyboard, sementara ASUS menampilkan laptop dual-screen dengan GPU RTX 5090, menunjukkan kemampuan perangkat keras mencapai level yang dulu hanya ada di imajinasi.

Sayangnya, peningkatan hardware yang spektakuler ini tidak diimbangi oleh pengalaman di Windows 11. Sistem operasi ini tengah dipenuhi dengan fitur AI yang dipaksakan ke segala sisi, seperti Copilot yang berbasis ChatGPT. Alih-alih mempermudah, banyak pengguna justru merasa terganggu, terutama karena isu keamanan dan bug yang muncul akibat integrasi AI yang terburu-buru. Visi Windows sebagai “agentic OS” belum disambut baik, dan banyak pengguna lama merasa bahwa sistem operasi favorit mereka kini terasa asing dan kurang intuitif.

Kesenjangan ini penting karena perangkat keras dan sistem operasi harus bekerja beriringan. Laptop tercanggih pun tidak maksimal jika OS-nya membatasi produktivitas atau mengganggu pengalaman sehari-hari. Untuk pengguna, hal ini berarti bahwa meski memiliki mesin yang kuat, kenyamanan, keamanan, dan efisiensi kerja bisa terhambat.

Kondisi ini menyoroti kebutuhan mendesak bagi Windows untuk menyesuaikan diri. Sementara hardware PC memasuki era keemasan, Windows harus menemukan kembali keseimbangan antara inovasi dan kenyamanan pengguna, agar kemajuan perangkat keras dapat benar-benar dinikmati tanpa kompromi.