Pegawai Ubisoft Murka, Serukan Mogok Kerja Global Selama Tiga Hari

Lima serikat pekerja yang mewakili karyawan Ubisoft di Prancis menyerukan aksi mogok kerja internasional besar-besaran sebagai respons atas restrukturisasi perusahaan dan kebijakan wajib kembali bekerja penuh di kantor. Langkah ini muncul setelah Ubisoft mengumumkan perombakan struktur studio, pembatalan enam proyek gim, penutupan beberapa studio, serta rencana pemangkasan sekitar 200 karyawan di kantor pusat Paris.

Serikat menilai kebijakan manajemen semakin sewenang-wenang, terutama terkait pencabutan kesepakatan kerja jarak jauh yang sebelumnya telah dinegosiasikan selama lebih dari setahun. Mereka mengkritik pendekatan pimpinan perusahaan yang dinilai tidak transparan, mengabaikan kesepakatan, serta memaksakan kebijakan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi pekerja. Serikat juga menyoroti isu pemutusan hubungan kerja dan kekhawatiran atas penggunaan AI yang berpotensi memperburuk kondisi tenaga kerja.

Aksi mogok direncanakan berlangsung selama tiga hari, pada 10 hingga 12 Februari, bertepatan dengan laporan keuangan kuartalan pertama Ubisoft setelah restrukturisasi diumumkan. Serikat berharap tekanan kolektif ini dapat memaksa manajemen mengubah kebijakan dan menghormati hak serta kesejahteraan karyawan.

Respons dari studio Ubisoft di luar Prancis masih belum pasti. Perlindungan serikat di Prancis relatif kuat, sementara banyak studio internasional, terutama di Amerika Utara, tidak memiliki perlindungan serupa. Kondisi ini membuat partisipasi dalam aksi mogok di luar Prancis menjadi lebih berisiko, terutama di tengah gelombang penutupan studio dan pemangkasan tenaga kerja yang sedang berlangsung.