Loot Box Jadi Alasan, Game Sepak Bola FC Berpotensi Tak Lagi Rating Anak

Badan klasifikasi game di Eropa, Pan European Game Information atau PEGI, mengumumkan perubahan besar dalam sistem penilaian usia untuk video game. Perubahan ini diperkirakan akan berdampak pada banyak judul populer, termasuk seri game sepak bola FC dari EA yang selama ini dikenal ramah untuk segala usia.

Selama bertahun tahun PEGI menentukan rating usia berdasarkan konten seperti kekerasan, unsur seksual, penggunaan narkoba, bahasa kasar, dan elemen yang menimbulkan rasa takut. Sistem tersebut kini diperluas dengan kategori baru yang menilai fitur interaktif di dalam game. Perubahan ini mencerminkan semakin kompleksnya mekanisme monetisasi dan interaksi digital yang hadir dalam industri game modern.

Salah satu fitur yang menjadi perhatian utama adalah sistem item acak berbayar, yang sering disebut loot box atau gacha. Dalam aturan baru, game yang menawarkan mekanisme ini secara otomatis akan mendapatkan rating PEGI 16. Dalam beberapa situasi tertentu, terutama pada game dengan elemen kasino sosial, rating bahkan bisa meningkat menjadi PEGI 18.

Kebijakan ini berpotensi memengaruhi seri game sepak bola FC yang diterbitkan oleh EA. Selama ini game tersebut umumnya memiliki rating PEGI 3, yang berarti dapat dimainkan oleh hampir semua kelompok usia. Namun keberadaan paket kartu virtual dalam mode Ultimate Team diperkirakan akan membuat game tersebut masuk kategori usia yang lebih tinggi pada rilis mendatang seperti FC 27.

Mode Ultimate Team memungkinkan pemain membeli paket kartu berisi pemain sepak bola secara acak untuk membangun tim. Sistem tersebut telah lama menjadi sumber pendapatan utama bagi penerbit, namun juga memicu perdebatan global karena dianggap mirip dengan mekanisme perjudian.

Selain loot box, PEGI juga memperkenalkan beberapa kategori baru lain yang berkaitan dengan fitur dalam game. Game yang menyediakan pembelian konten tambahan di dalam permainan, termasuk penawaran terbatas berdasarkan waktu atau jumlah, akan mendapat rating PEGI 12. Apabila sistem tersebut berkaitan dengan teknologi blockchain atau NFT, ratingnya akan meningkat menjadi PEGI 18.

PEGI juga mulai mempertimbangkan desain permainan yang mendorong pemain untuk terus kembali bermain. Fitur seperti misi harian, battle pass, atau bonus login beruntun akan mendapatkan rating PEGI 7. Namun jika game memberikan hukuman kepada pemain yang tidak kembali bermain, misalnya kehilangan progres atau konten tertentu, ratingnya bisa meningkat menjadi PEGI 12.

Aspek komunikasi dalam game juga ikut menjadi perhatian. Game yang menyediakan fitur komunikasi tanpa batas, di mana pemain tidak dapat memblokir, melaporkan, atau membatasi percakapan teks, suara, atau video, akan langsung diberi rating PEGI 18.

Perubahan ini tidak akan langsung berlaku untuk semua game yang sudah beredar. Aturan baru hanya diterapkan pada game yang diajukan untuk klasifikasi mulai bulan Juni mendatang atau pada game lama yang menambahkan fitur yang termasuk dalam kategori baru tersebut.

Langkah PEGI mencerminkan tekanan yang semakin besar dari regulator di berbagai negara terhadap mekanisme monetisasi dalam industri game. Banyak pembuat kebijakan menilai beberapa fitur dalam game modern dirancang untuk meningkatkan ketergantungan pemain dan mendorong pengeluaran berulang.

Perdebatan tersebut juga memicu berbagai langkah hukum. Salah satu contoh terbaru adalah gugatan terhadap perusahaan game Valve yang menuduh penggunaan loot box sebagai bentuk promosi perjudian ilegal.

Dengan perubahan aturan ini, penerbit game kemungkinan perlu menyesuaikan strategi desain dan monetisasi agar tetap mempertahankan rating usia yang lebih rendah. Bagi seri game populer seperti FC, perubahan kecil dalam sistem pembelian dalam game bisa berdampak besar pada kategori usia yang ditetapkan.

Jika aturan baru ini benar benar diterapkan pada rilis mendatang, game sepak bola yang selama ini identik dengan hiburan keluarga bisa berubah menjadi produk yang ditujukan untuk pemain yang lebih dewasa.