Samsung Hentikan Galaxy Z TriFold Rp45 Juta Hanya 3 Bulan, Ini Alasan Sebenarnya

Samsung kembali menunjukkan ambisi besarnya di pasar ponsel lipat lewat peluncuran Galaxy Z TriFold. Perangkat ini bukan sekadar ponsel biasa, melainkan inovasi dengan dua engsel yang memungkinkan layar dibuka menjadi tablet berukuran hampir 10 inci.

Namun, langkah berani tersebut ternyata tidak bertahan lama. Setelah hanya sekitar tiga bulan sejak peluncuran, Samsung memutuskan untuk menghentikan penjualan perangkat tersebut di berbagai pasar.

Keputusan ini mulai terlihat dari pasar awalnya di Korea Selatan, tempat perangkat ini pertama kali diperkenalkan pada Desember 2025. Penjualan kemudian dihentikan secara bertahap, sementara di pasar lain seperti Amerika Serikat, perangkat ini hanya sempat dijual dalam waktu yang lebih singkat lagi sebelum stoknya benar-benar habis.

Menariknya, penghentian ini bukan karena minimnya minat. Justru sebaliknya, perangkat dengan harga sekitar 2.899 dolar AS atau setara puluhan juta rupiah ini sempat laris hingga sulit ditemukan. Bahkan, beberapa pembeli rela membayar lebih mahal di pasar sekunder demi mendapatkannya.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Salah satu faktor utama diduga berasal dari biaya produksi yang semakin tinggi. Komponen penting seperti memori dan penyimpanan mengalami kenaikan harga signifikan. Padahal, Galaxy Z TriFold hadir dengan spesifikasi besar, termasuk RAM 16GB dan penyimpanan internal 512GB sebagai standar.

Dengan spesifikasi tersebut, biaya produksi menjadi sangat tinggi. Meskipun dijual dengan harga premium, margin keuntungan kemungkinan tidak sebesar yang dibayangkan. Menaikkan harga lebih tinggi lagi juga bukan pilihan yang realistis karena dapat mempersempit pasar secara drastis.

Situasi ini memperlihatkan bahwa Galaxy Z TriFold sejak awal memang lebih ditujukan sebagai produk eksperimental atau perangkat prestise. Fungsinya tidak hanya untuk dijual, tetapi juga untuk menunjukkan kemampuan teknologi Samsung dalam merancang perangkat lipat yang lebih kompleks.

Hal ini juga menjelaskan mengapa produksinya terbatas. Pasar untuk perangkat dengan harga mendekati 3.000 dolar AS sangat kecil. Tidak banyak konsumen yang bersedia membayar sebesar itu, meskipun perangkat tersebut menawarkan pengalaman unik dengan layar yang bisa berubah dari ponsel menjadi tablet.

Keputusan untuk menghentikan produk ini juga berdampak pada strategi Samsung ke depan. Sumber daya yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi perangkat ini kemungkinan akan dialihkan ke produk lain yang lebih menguntungkan, seperti lini flagship tradisional. Salah satunya adalah Galaxy S26 Ultra yang dilaporkan memiliki penjualan kuat meskipun dibanderol cukup tinggi.

Bagi penggemar ponsel lipat berukuran besar, pilihan kini menjadi semakin terbatas. Alternatif terdekat datang dari Huawei melalui perangkat Mate XT Ultimate. Namun, perangkat tersebut tidak tersedia secara global dan sudah cukup lama tidak diperbarui. Selain itu, ketersediaannya terbatas di wilayah tertentu dan memiliki kendala kompatibilitas jaringan di beberapa negara.

Meski Galaxy Z TriFold dihentikan, bukan berarti inovasi ini akan hilang sepenuhnya. Samsung masih membuka kemungkinan untuk membawa beberapa fitur dari perangkat ini ke produk lain. Salah satunya adalah desain layar yang lebih lebar, yang kabarnya akan diterapkan pada generasi berikutnya dari seri foldable mereka.

Langkah ini menunjukkan arah baru dalam evolusi ponsel lipat. Alih-alih menghadirkan perangkat ekstrem dengan harga sangat tinggi, produsen mulai mencari keseimbangan antara inovasi dan kebutuhan pasar.

Kasus Galaxy Z TriFold menjadi gambaran bahwa tidak semua teknologi canggih langsung cocok untuk produksi massal. Dibutuhkan waktu, efisiensi biaya, dan kesiapan pasar sebelum inovasi benar-benar bisa diterima secara luas.