Di dunia smartphone, inovasi lipat sudah menjadi sorotan selama beberapa tahun terakhir. Samsung, sebagai pelopor foldable, baru-baru ini memperkenalkan Galaxy Z TriFold, sebuah perangkat yang tampaknya mengubah cara kita melihat ponsel lipat. Berbeda dari model lipat dua panel yang lebih dulu ada, TriFold membawa tiga panel layar yang bisa dilipat, menjadikannya seperti ponsel dan tablet dalam satu genggaman.
Saat dibuka, layar utama mencapai 10 inci, cukup luas untuk menonton film, mengerjakan dokumen, atau membuka beberapa aplikasi sekaligus. Ketika dilipat, layar penutup 6,5 inci tetap nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti membalas pesan atau memeriksa email. Samsung berhasil menyeimbangkan ukuran dan portabilitas sehingga perangkat ini tetap masuk saku meski memiliki tiga panel layar.
Salah satu hal yang menonjol dari TriFold adalah ketebalan dan bobotnya yang relatif wajar. Dengan ketebalan 3,9 milimeter di titik tipis dan berat sekitar 309 gram, perangkat ini terasa kokoh namun tetap nyaman digenggam. Meski demikian, cara melipatnya membutuhkan sedikit penyesuaian, terutama karena ada dua engsel dan urutan lipat yang harus diikuti agar layar tidak rusak. Untungnya, perangkat memberikan umpan balik haptic untuk membantu pengguna menutup layar dengan benar.
Dari sisi performa, TriFold tidak main-main. Ditenagai prosesor Snapdragon 8 Elite dengan RAM 16 GB, ponsel ini mampu menangani multitasking berat. Baterai 5.600 mAh yang terbagi di tiga panel memungkinkan penggunaan sepanjang hari, sementara pengisian cepat 45 watt meminimalkan waktu menunggu. Samsung juga menyertakan fitur DeX secara mandiri, yang mengubah ponsel menjadi semacam workstation mini. Ini memungkinkan pengguna membuka hingga empat workspace dengan masing-masing lima aplikasi, menjadikan TriFold lebih dari sekadar ponsel—ini adalah perangkat produktivitas portabel.
Dari sisi kamera, TriFold menghadirkan konfigurasi serupa Galaxy Z Fold 7: kamera utama 200 MP, ultrawide 12 MP, dan telefoto 10 MP, plus dua kamera selfie 10 MP. Jadi, pengguna tetap bisa mendapatkan kualitas foto dan video setara flagship Samsung terbaru.
Yang juga menarik adalah respons pasar. Saat diluncurkan di Korea Selatan pada Desember 2025, TriFold habis terjual dalam waktu lima menit. Harga awal mencapai sekitar 3,59 juta won atau setara $2.428, menandai perangkat Samsung termahal yang pernah dijual. Samsung sengaja tidak mengungkap jumlah produksi, menekankan bahwa ini bukan perangkat massal tapi lebih pada demonstrasi kemampuan teknis dan desain. Strategi ini juga memperlihatkan bagaimana Samsung mencoba menjaga posisi inovatif di pasar foldable sebelum kompetitor besar, termasuk Apple, masuk ke kategori ini.
Mengapa ini penting bagi konsumen? TriFold menghadirkan konsep ponsel lipat yang benar-benar praktis, bukan sekadar gimmick. Ia memungkinkan pengguna membawa layar besar tanpa harus repot membawa tablet tambahan. Bagi yang mengutamakan produktivitas, hiburan, dan fleksibilitas dalam satu perangkat, TriFold membuka pengalaman baru yang sebelumnya hanya bisa didapat dengan membawa dua perangkat sekaligus.
Namun, ada pertimbangan penting. Bentuk lipat tiga membuatnya tidak bisa digunakan setengah terbuka seperti Z Fold 7, sehingga beberapa fungsi kreatif seperti self-shot atau video framing mungkin kurang fleksibel. Harga tinggi juga membatasi aksesnya hanya untuk pengguna yang benar-benar siap berinvestasi pada inovasi terbaru.
Secara keseluruhan, Galaxy Z TriFold adalah langkah signifikan bagi industri smartphone. Ia bukan hanya perangkat baru, tapi juga sinyal bahwa ponsel lipat bisa benar-benar menjadi alat kerja dan hiburan yang praktis di saku, sekaligus menunjukkan kemampuan Samsung mendesain perangkat yang kompleks dengan tiga panel lipat. Bagi pengguna yang ingin merasakan teknologi lipat tercanggih, TriFold mungkin menjadi pilihan yang pantas dipertimbangkan.

