Setelah 8 Tahun Vakum, AsteroidOS 2.0 Siap Hidupkan Lagi Smartwatch Lawas

Delapan tahun bukan waktu yang singkat dalam dunia teknologi. Banyak perangkat lahir dan mati dalam rentang waktu tersebut. Namun di tengah cepatnya perputaran industri, sebuah sistem operasi jam tangan berbasis Linux bernama AsteroidOS justru menunjukkan tanda kehidupan baru lewat rilis versi 2.0.

AsteroidOS adalah sistem operasi bebas dan sumber terbuka yang dirancang khusus untuk smartwatch. Ia dikembangkan sebagai alternatif terhadap platform tertutup seperti Wear OS milik Google dan watchOS milik Apple. Berbeda dari sistem komersial yang terikat ekosistem tertentu, proyek ini digerakkan komunitas dan menempatkan kendali di tangan pengguna.

Fondasinya berbasis Linux, dibangun menggunakan OpenEmbedded dengan antarmuka Qt dan QML, serta memanfaatkan BlueZ untuk konektivitas Bluetooth. Secara filosofi, AsteroidOS berdiri di atas tiga gagasan utama: privasi sebagai prioritas, memperpanjang usia perangkat lama agar tidak cepat menjadi limbah elektronik, serta membuka ruang belajar dan kontribusi bagi siapa pun yang tertarik mengutak-atik sistemnya.

Versi 2.0 membawa sejumlah peningkatan yang membuat pengalaman penggunaan terasa lebih modern. Kini tersedia fitur Always on Display yang menjaga layar tetap aktif, Tilt to Wake yang menyalakan layar saat pergelangan tangan diangkat, serta Palm to Sleep untuk mematikan layar dengan menutupnya menggunakan telapak tangan. Fitur-fitur ini membuat jam tangan lama terasa lebih relevan dengan standar smartwatch masa kini.

Pembaruan juga menyentuh sisi kesehatan dan utilitas. Tersedia aplikasi pemantau detak jantung, dukungan awal penghitung langkah, kompas, serta kemampuan Bluetooth HID dan audio. Ada pula aplikasi senter dan permainan sederhana bernama Diamonds yang terinspirasi konsep 2048.

Dari sisi desain, tampilan sistem mengalami perombakan cukup besar. Menu pengaturan cepat lama digantikan QuickPanel yang lebih fleksibel dengan tambahan tombol pintas dan pengatur waktu mati otomatis. Pengguna dapat memilih tujuh gaya peluncur aplikasi berbeda. Mode Nightstand memungkinkan jam digunakan sebagai jam meja dengan indikator pengisian daya yang besar, sementara galeri watchface kini menampilkan pratinjau lebih responsif.

Peningkatan performa juga menjadi fokus. Animasi antarmuka dibuat lebih halus, efisiensi daya ditingkatkan, serta banyak perbaikan stabilitas dilakukan. Font sistem diganti ke Noto Sans agar dukungan multibahasa lebih baik, emoji diperbarui menggunakan Twemoji, dan dukungan bahasa kini mencapai 49 bahasa.

Yang tak kalah penting, dukungan perangkat diperluas. Sejak versi 1.0, 15 model baru ditambahkan, termasuk beberapa seri Fossil Gen 4, 5, dan 6, Huawei Watch generasi pertama dan kedua, TicWatch Pro 3, OPPO Watch, hingga Polar M600. Ini memperbesar peluang bagi pemilik jam tangan lama untuk menghidupkan kembali perangkat yang mungkin sudah tidak mendapat pembaruan resmi dari pabrikan.

Aplikasi pendamping Android bernama AsteroidOS Sync juga ikut diperbarui dengan fitur deteksi dan tampilan panggilan masuk, pustaka Bluetooth baru yang lebih stabil, serta dukungan kunci API khusus untuk cuaca. Selain itu, integrasi dengan Gadgetbridge telah tersedia, dan klien sinkronisasi baru hadir untuk SailfishOS dan Ubuntu Touch melalui proyek Telescope.

Kehadiran AsteroidOS 2.0 penting karena menawarkan alternatif nyata di tengah dominasi ekosistem tertutup. Banyak smartwatch berhenti mendapat pembaruan hanya dalam beberapa tahun, padahal perangkat kerasnya masih berfungsi dengan baik. Sistem seperti ini memberi kesempatan kedua bagi perangkat lama sekaligus mengurangi ketergantungan pada layanan cloud dan pelacakan data.

Dampaknya terasa pada dua sisi. Bagi pengguna umum, ada opsi untuk memperpanjang umur jam tangan tanpa harus membeli yang baru. Bagi pengembang dan pegiat teknologi, proyek ini menjadi laboratorium terbuka untuk belajar, bereksperimen, dan berkontribusi langsung pada sistem operasi wearable.

Di tengah tren perangkat yang cepat usang, kebangkitan AsteroidOS 2.0 menunjukkan bahwa komunitas masih memiliki peran penting dalam menciptakan teknologi yang lebih terbuka, berkelanjutan, dan menghargai privasi.