Dua dekade setelah pertama kali menginjakkan kaki di kota berkabut bernama Silent Hill, sutradara Christophe Gans kembali dengan film baru yang mencoba menghidupkan ulang semesta horor tersebut. Kembalinya ini terasa seperti gestur kesetiaan terhadap dunia yang sejak awal memang tidak pernah benar-benar mapan sebagai waralaba film besar, meski adaptasi gimnya memiliki penggemar fanatik. Return to Silent Hill berdiri di atas reputasi itu: dikenal, tetapi tidak sepenuhnya dicintai.
Film ini mengambil inspirasi dari gim Silent Hill 2, salah satu seri paling ikonis dalam dunia permainan video horor. Cerita berpusat pada James, seorang pria yang dilanda kehilangan dan rasa bersalah, lalu menerima sebuah surat misterius yang seolah memanggilnya kembali ke Silent Hill. Kota tersebut digambarkan sebagai tempat mati yang tertutup abu, nyaris kosong, dan jelas menyimpan sesuatu yang salah. Namun alih-alih gentar, James justru melangkah masuk dengan rasa ingin tahu yang nyaris datar, bahkan ketika tanda-tanda bahaya muncul tanpa henti.
Pendekatan ini menjadi fondasi utama film sekaligus sumber masalah terbesarnya. Dalam horor, rasa takut biasanya lahir dari kesadaran akan ancaman. Di sini, tokoh utama justru bergerak seolah sedang berjalan-jalan, bukan bertahan hidup. Obsesi James terhadap Mary, perempuan yang dicintainya dan menghilang dari hidupnya, dimaksudkan sebagai alasan mengapa ia terus maju. Namun hubungan emosional keduanya sebagian besar disampaikan lewat kilas balik yang tipis dan kurang memberi pijakan realitas. Akibatnya, tragedi yang seharusnya menjadi inti emosional terasa jauh dan kabur.
Secara visual, film ini tidak sepenuhnya gagal. Ada sejumlah citra yang cukup kuat dan menjijikkan, mulai dari makhluk-makhluk aneh yang berkeliaran hingga penggunaan refleksi cermin yang terpecah untuk menampilkan karakter terapis James. Sayangnya, keindahan visual tersebut tidak diimbangi dengan alur yang bergerak jelas. Film ini lebih sering terasa seperti rangkaian adegan eksplorasi tanpa tujuan, mirip pengalaman bermain gim tanpa misi yang tegas.
Di sinilah terlihat persoalan klasik adaptasi gim ke layar lebar. Dunia Silent Hill memang dibangun sebagai ruang ambigu, penuh simbol dan mimpi buruk psikologis. Namun tanpa struktur naratif yang kokoh, semua itu mudah berubah menjadi pengalaman yang datar. Ketika batas antara kenyataan dan halusinasi tidak pernah benar-benar ditegaskan, ketegangan pun melemah karena tidak ada pijakan emosional yang kuat untuk dipertaruhkan.
Keberadaan film ini penting sebagai cerminan tantangan lama dalam industri film, khususnya bagaimana mengubah pengalaman interaktif menjadi cerita sinematik yang hidup. Return to Silent Hill menunjukkan bahwa kesetiaan pada sumber asal saja tidak cukup. Diperlukan keberanian untuk memberi arah, konflik, dan perkembangan karakter yang nyata.
Bagi yang mengikuti perkembangan adaptasi gim ke film, karya ini menjadi pengingat bahwa nama besar dan nostalgia belum tentu menghasilkan pengalaman yang memuaskan. Kota Silent Hill kembali dibuka, namun yang ditemukan di dalamnya lebih banyak kabut daripada terobosan baru. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 Januari.

