Tes Pemakaian Nyata Galaxy S26 Ultra: Baterai 5.000 mAh Ternyata Belum Mampu Saingi Rival

Samsung kembali menghadirkan lini flagship terbarunya melalui Galaxy S26 Ultra. Perangkat ini hadir dengan desain yang lebih tipis dan ringan dibanding generasi sebelumnya, sebuah perubahan yang langsung terasa saat digunakan sehari-hari. Namun di balik peningkatan desain tersebut, ada satu hal yang tetap dipertahankan oleh Samsung selama beberapa generasi terakhir, yaitu kapasitas baterai 5.000 mAh.

Keputusan untuk mempertahankan kapasitas baterai yang sama memunculkan pertanyaan mengenai daya tahan perangkat ini di penggunaan nyata. Apalagi sejumlah produsen smartphone lain mulai menghadirkan baterai dengan kapasitas jauh lebih besar, bahkan mencapai lebih dari 7.000 mAh. Selisih kapasitas tersebut cukup signifikan dan berpotensi memberikan perbedaan besar dalam penggunaan harian.

Samsung sendiri mengklaim Galaxy S26 Ultra telah dioptimalkan agar mampu bertahan sepanjang hari. Dalam materi promosinya, perusahaan menyebut perangkat ini mampu memutar video hingga 31 jam, angka yang sama seperti generasi sebelumnya. Namun penggunaan smartphone modern jarang didominasi oleh pemutaran video offline saja. Aktivitas seperti media sosial, pesan instan, browsing, dan fotografi justru menjadi aktivitas yang lebih umum.

Untuk melihat gambaran yang lebih realistis, pengujian penggunaan dilakukan dalam skenario sehari-hari dengan kartu SIM aktif dan pola penggunaan yang cukup umum. Aktivitas yang dilakukan meliputi penggunaan media sosial, mengirim pesan, browsing internet, serta mengambil beberapa foto. Pengujian tidak melibatkan aktivitas berat seperti bermain game atau menggunakan ponsel sebagai hotspot.

Hasil penggunaan selama beberapa hari menunjukkan performa baterai yang cukup beragam. Dalam dua hari dengan waktu layar sekitar empat jam, konsumsi baterai berada di kisaran 50 persen. Angka tersebut menunjukkan perangkat masih mampu bertahan seharian dalam penggunaan moderat.

Namun hasil yang cukup mengejutkan muncul pada hari dengan penggunaan lebih ringan. Dalam satu hari tertentu, waktu layar hanya sekitar satu jam dua puluh menit, tetapi baterai justru terkuras lebih cepat dibanding hari lain. Efisiensi yang tercatat sekitar 2,8 menit penggunaan per satu persen baterai, sementara pada hari lain mencapai sekitar 4,5 menit per satu persen.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa daya tahan baterai tidak hanya bergantung pada lamanya layar aktif. Faktor lain seperti aktivitas latar belakang aplikasi, jaringan seluler, serta sinkronisasi data kemungkinan ikut memengaruhi konsumsi daya.

Aplikasi yang paling banyak digunakan selama pengujian adalah Instagram, terutama untuk menonton Reels dan berkomunikasi melalui pesan. Aktivitas media sosial seperti ini memang dikenal cukup menguras baterai karena melibatkan streaming video, koneksi jaringan yang aktif, serta proses latar belakang aplikasi.

Jika dibandingkan dengan perangkat pesaing, hasil Galaxy S26 Ultra masih terlihat tertinggal. Dalam penggunaan sebelumnya, iPhone 17 Pro Max mampu mencapai lebih dari sembilan jam waktu layar aktif, atau sekitar 25 persen lebih lama dibandingkan hasil yang dicapai dalam pengujian tersebut.

Perbandingan ini memperlihatkan bahwa Samsung masih memiliki pekerjaan rumah dalam hal efisiensi daya, terutama pada perangkat flagship yang bersaing di kelas premium. Dengan kapasitas baterai yang tidak berubah selama beberapa tahun terakhir, peningkatan efisiensi perangkat lunak menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan.

Di sisi lain, keputusan mempertahankan kapasitas baterai mungkin berkaitan dengan desain perangkat yang semakin tipis dan ringan. Baterai yang lebih besar tentu membutuhkan ruang lebih luas, yang bisa berdampak pada dimensi dan bobot perangkat.

Bagi sebagian pengguna, daya tahan Galaxy S26 Ultra masih tergolong cukup untuk penggunaan harian standar. Namun bagi pengguna yang mengandalkan ponsel untuk aktivitas intensif sepanjang hari, performa baterai mungkin terasa kurang kompetitif dibanding beberapa flagship lain yang mulai mengadopsi baterai berkapasitas lebih besar.

Dengan tren industri yang mulai mengarah pada baterai berkapasitas tinggi dan teknologi efisiensi daya yang lebih agresif, menarik untuk melihat langkah Samsung pada generasi berikutnya. Jika kompetisi terus bergerak menuju baterai yang lebih besar, tekanan bagi Samsung untuk melakukan perubahan kemungkinan akan semakin besar.