Pembaruan besar Animal Crossing: New Horizons yang dirilis Nintendo pada awal Januari 2026 seharusnya menjadi momen yang ditunggu para penggemar. Setelah bertahun-tahun nyaris tanpa konten utama baru, Update 3.0 akhirnya membawa tambahan signifikan seperti hotel resor, layanan reset dari karakter ikonik Resetti, serta fitur Slumber Island yang memungkinkan perancangan beberapa pulau baru dari nol. Bersamaan dengan itu, Nintendo juga merilis peningkatan grafis khusus untuk Switch 2 yang digadang-gadang memanfaatkan kemampuan perangkat keras generasi terbaru.
Namun, alih-alih mendapat sambutan hangat sepenuhnya, peningkatan visual tersebut justru memicu kekecewaan di kalangan sebagian komunitas. Harapan akan tampilan yang jauh lebih tajam dan bersih di resolusi tinggi tidak sepenuhnya terwujud. Masalah utama yang disorot adalah cara permainan ini menangani anti-aliasing, teknik penting untuk menghaluskan tepi objek agar tidak terlihat bergerigi di layar beresolusi tinggi.
Dalam versi Switch 2, Animal Crossing: New Horizons diketahui menggunakan FXAA, sebuah metode anti-aliasing berbasis pascaproses. Teknik ini bekerja dengan cara mengaburkan tepi objek setelah gambar dirender, bukan dengan benar-benar meningkatkan presisi detail geometrinya. Hasilnya, meskipun garis bergerigi memang sedikit tersamarkan, banyak detail halus justru ikut kehilangan ketajaman. Alih-alih tampak jernih, sejumlah area terlihat lembut berlebihan, bahkan kabur.
Efek ini menjadi semakin mencolok ketika permainan dijalankan pada resolusi 4K. Beberapa penggemar melaporkan bahwa efek depth of field di dalam ruangan terasa janggal. Latar belakang karakter dan objek tertentu terlihat pecah dan tidak stabil, seolah tidak dirancang untuk resolusi setinggi itu. Ketika objek lurus berada pada sudut tertentu, bayangan dan tepinya tampak smear dan berubah-ubah dari satu frame ke frame lain, menciptakan kesan visual yang tidak konsisten.
Kritik tersebut menimbulkan pertanyaan lebih besar mengenai pendekatan Nintendo terhadap peningkatan generasi baru. Switch 2 menawarkan tenaga grafis yang jauh lebih mumpuni dibanding pendahulunya, sehingga ekspektasi terhadap peningkatan kualitas visual pun ikut naik. Penggunaan FXAA dianggap sebagai solusi yang terkesan cepat dan murah, bukan pendekatan optimal untuk memaksimalkan layar 4K. Bagi judul sepopuler Animal Crossing, yang identik dengan tampilan bersih dan nyaman dilihat dalam sesi bermain panjang, kekurangan ini terasa kontras dengan citra seri tersebut.
Isu ini penting karena mencerminkan tantangan transisi game lama ke perangkat keras baru. Peningkatan resolusi bukan sekadar soal menaikkan angka, tetapi juga menuntut penyesuaian ulang efek visual yang sebelumnya dirancang untuk standar teknis berbeda. Ketika penyesuaian itu tidak dilakukan secara menyeluruh, hasil akhirnya bisa terasa setengah matang, meskipun secara teknis terlihat lebih baik dibanding versi lama.
Dampaknya terasa pada pengalaman bermain secara keseluruhan. Visual yang kabur dan tepi objek yang tidak stabil dapat mengganggu imersi, terutama bagi mereka yang menikmati detail lingkungan dan desain pulau dalam waktu lama. Hingga kini, Nintendo belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan perbaikan melalui pembaruan lanjutan. Selama belum ada kejelasan, pembaruan generasi baru Animal Crossing: New Horizons menjadi contoh bahwa peningkatan teknis tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas pengalaman.

