Valve akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait gugatan yang diajukan oleh Jaksa Agung Negara Bagian New York mengenai sistem loot box dalam gim di platform Steam. Perusahaan pengembang platform distribusi gim terbesar di dunia itu menolak tuduhan bahwa mekanisme tersebut termasuk bentuk perjudian ilegal.
Dalam pembelaannya, Valve membandingkan loot box digital dengan berbagai produk fisik yang sudah lama dikenal publik, seperti paket kartu koleksi atau mainan blind box. Menurut perusahaan tersebut, konsep membeli produk dengan isi acak bukanlah hal baru dan telah menjadi bagian dari budaya koleksi selama beberapa generasi.
Valve mencontohkan berbagai produk populer seperti kartu baseball, kartu Pokémon, Magic the Gathering, hingga mainan koleksi seperti Labubu. Semua produk tersebut dijual dalam bentuk paket tertutup dengan isi yang tidak diketahui sebelumnya, sehingga konsumen baru mengetahui isi setelah membukanya.
Menurut Valve, praktik tersebut secara konsep serupa dengan sistem loot box di gim, di mana pemain membeli item digital dengan kemungkinan mendapatkan berbagai hadiah yang berbeda.
Meski begitu, gugatan dari pihak otoritas New York menilai ada perbedaan penting antara produk fisik dan loot box digital. Salah satu sorotan utama adalah keberadaan Steam Marketplace, pasar resmi yang memungkinkan pemain memperjualbelikan item digital yang diperoleh dari loot box.
Pasar tersebut berada sepenuhnya di bawah kendali Valve dan menjadi satu-satunya jalur resmi untuk transaksi item dalam ekosistem Steam. Perusahaan juga mengambil komisi sekitar 15 persen dari setiap transaksi yang terjadi di platform tersebut.
Para ahli hukum menilai faktor ini dapat memperkuat argumen bahwa item dalam loot box memiliki nilai ekonomi nyata. Jika item digital tersebut memiliki nilai pasar dan dapat diperjualbelikan, maka mekanisme pembelian acak dapat dianggap memiliki unsur perjudian menurut definisi hukum tertentu.
Valve sendiri menegaskan tidak berniat membatasi kemampuan pemain untuk memindahkan atau memperjualbelikan item yang mereka miliki. Perusahaan menyatakan bahwa kebebasan pemain untuk menukar atau menjual item adalah hak yang penting dalam ekosistem gim digital.
Selain itu, Valve juga mengkritik beberapa usulan dari pihak otoritas New York yang meminta perusahaan mengumpulkan informasi tambahan dari pengguna Steam. Langkah tersebut disebut diperlukan untuk memastikan bahwa pemain yang berada di wilayah New York tidak menyamarkan lokasi menggunakan layanan VPN.
Menurut Valve, kewajiban tersebut akan memaksa perusahaan mengumpulkan data lebih banyak dari seluruh pengguna Steam di dunia. Perusahaan menilai kebijakan semacam itu dapat menjadi pelanggaran privasi yang bersifat invasif bagi para pengguna.
Valve menyatakan telah berdiskusi dengan kantor Jaksa Agung New York sejak 2023 untuk menjelaskan bagaimana sistem loot box bekerja dalam gim. Namun perusahaan menilai gugatan yang diajukan melampaui ketentuan hukum yang saat ini berlaku di negara bagian tersebut.
Valve menegaskan bahwa mereka siap mematuhi aturan baru apabila suatu negara bagian secara eksplisit melarang mekanisme loot box dalam gim. Namun perusahaan menilai gugatan yang diajukan saat ini mencoba memperluas interpretasi hukum yang belum jelas.
Perusahaan juga mengakui bahwa menyelesaikan kasus melalui jalur damai sebenarnya akan menjadi langkah yang lebih mudah. Meski demikian, Valve khawatir penyelesaian semacam itu justru menciptakan preseden hukum yang dapat berdampak luas bagi industri gim.
Menurut perusahaan, keputusan untuk melawan gugatan di pengadilan bertujuan melindungi pemain serta pengembang gim lain dari pembatasan yang dianggap terlalu luas terhadap desain mekanisme permainan.
Di luar kasus di New York, Valve juga menghadapi potensi gugatan lain di negara bagian Washington. Sebuah firma hukum tengah menyiapkan gugatan kelompok yang menuduh perusahaan menggunakan taktik psikologis mirip kasino untuk mendorong pemain menghabiskan uang.
Gugatan tersebut menyoroti berbagai elemen desain dalam loot box, termasuk sistem hadiah yang tidak terduga, efek visual yang memicu sensasi kemenangan, serta ilusi hampir menang yang dapat membuat pemain terus mencoba.
Perkembangan kasus ini diperkirakan akan menjadi salah satu penentu penting dalam perdebatan global mengenai status hukum loot box di industri gim modern.

