Setelah tujuh tahun sejak perilisan film keempatnya, seri animasi legendaris produksi Pixar kembali berlanjut lewat “Toy Story 5”. Trailer perdana yang baru dirilis menandai babak baru perjalanan Woody dan Buzz Lightyear, dua karakter yang telah menjadi ikon budaya populer selama hampir tiga dekade.
Film ini mengangkat persoalan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan masa kini. Di tengah dominasi gawai dan layar digital, ruang bermain anak perlahan berubah. Jika dulu boneka, mobil-mobilan, dan figur aksi menjadi pusat imajinasi, kini perhatian anak-anak banyak tersedot ke tablet dan perangkat pintar. Dalam cuplikan trailer, Woody dan Buzz bersatu kembali untuk menghadapi ancaman baru berupa Lilypad, sebuah tablet pintar yang mulai menjauhkan Bonnie dari mainan-mainan kesayangannya.
Konflik yang ditawarkan tidak lagi sekadar pertarungan antara tokoh baik dan jahat. Sutradara sekaligus penulis naskah Andrew Stanton menggambarkannya sebagai pergulatan makna keberadaan para mainan. Ketika anak-anak lebih tertarik pada dunia digital, apa arti sebuah mainan? Pertanyaan ini memberi lapisan emosional yang lebih dalam dibanding sekadar aksi penyelamatan.
Sebagian besar pengisi suara lama kembali terlibat, termasuk Tom Hanks sebagai Woody dan Tim Allen sebagai Buzz Lightyear. Kehadiran nama-nama baru seperti Greta Lee dan Conan O’Brien memberi warna segar tanpa meninggalkan identitas lama yang sudah melekat kuat di hati penonton.
Kelanjutan cerita ini juga memunculkan pertanyaan besar dari akhir film sebelumnya. Dalam “Toy Story 4”, Woody memilih jalan hidup yang berbeda dan berpisah dari Bonnie. Keputusan itu menjadi titik balik penting dalam waralaba ini. Film kelima harus menjawab bagaimana perpisahan tersebut berdampak pada hubungan Woody dengan Buzz dan kelompoknya.
Kemunculan “Toy Story 5” terjadi di saat yang krusial bagi studio animasi di bawah naungan Walt Disney Company tersebut. Keberhasilan besar “Inside Out 2” pada 2024 membuktikan bahwa film animasi keluarga masih memiliki daya tarik luar biasa di box office global. Momentum ini menjadikan “Toy Story 5” bukan sekadar sekuel nostalgia, tetapi juga penentu arah masa depan Pixar.
Isu yang diangkat terasa relevan bagi keluarga masa kini. Perubahan pola bermain anak bukan hanya soal hiburan, tetapi juga menyangkut perkembangan sosial, kreativitas, dan interaksi emosional. Film ini berpotensi menjadi refleksi ringan namun menyentuh tentang keseimbangan antara teknologi dan pengalaman bermain tradisional.
“Toy Story 5” dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 Juni. Dengan reuni Woody dan Buzz serta konflik yang lebih kontekstual dengan kehidupan modern, film ini berpeluang menghadirkan nostalgia sekaligus percakapan baru tentang masa kecil di era digital.

