Rilis Vampire: The Masquerade Bloodlines 2 tahun ini menjadi salah satu momen yang paling ditunggu penggemar RPG bertema vampir. Namun alih-alih menjadi kebangkitan waralaba, game tersebut justru menuai kritik keras dan kekecewaan pemain. Dengan perjalanan pengembangan yang panjang dan penuh masalah sejak era Hardsuit Labs hingga akhirnya diselesaikan oleh The Chinese Room, ekspektasi publik terlanjur tinggi, terutama karena status Bloodlines pertama yang kini dianggap sebagai game kultus.
Dalam wawancara di The Goth Boss Podcast, Dan Pinchbeck selaku co-founder The Chinese Room mengaku sejak awal dirinya sebenarnya ingin game ini tidak menggunakan nama Bloodlines 2. Ia menjelaskan bahwa label tersebut membawa beban ekspektasi yang sangat berat dibandingkan kapasitas dan batasan yang dimiliki tim pengembang.
Menurut Pinchbeck, Bloodlines pertama dirilis pada masa ketika industri game masih toleran terhadap karya ambisius namun penuh bug dan kekurangan. Ia menyebut judul seperti Stalker dan Shenmue sebagai contoh game yang tetap diapresiasi meski tidak sempurna. Hal itu dinilai tidak mungkin lagi terjadi pada era modern, ketika pemain menuntut kualitas teknis, gameplay solid, dan pengalaman bebas masalah sejak hari pertama.
Pinchbeck menegaskan bahwa mencoba membuat Bloodlines 2 yang benar-benar setara dengan versi pertama adalah sesuatu yang mustahil dengan waktu dan anggaran yang tersedia. Ia mengatakan bahwa jika tim memaksakan diri mengikuti jejak game orisinal, hasilnya justru akan mengecewakan semua pihak. Penggemar lama tidak akan puas karena game tidak bisa memenuhi standar nostalgia mereka, sementara pemain baru pun tidak akan memahami hype yang terlanjur melekat pada judul tersebut.
Karena itu, tim memutuskan mengubah arah desain. Pinchbeck sempat mengajukan filosofi produksi yang berbunyi “Kita tidak bisa membuat Bloodlines 2, kita tidak bisa membuat Skyrim, tapi kita bisa membuat Dishonored.” Maksudnya, pengembangan diarahkan pada pengalaman yang lebih terfokus, bukan RPG dunia terbuka skala besar. Tujuannya menciptakan game yang tetap menghormati mitologi Vampire: The Masquerade, namun realistis dikembangkan sesuai sumber daya yang ada.
Meski demikian, hal tersebut tidak cukup menghindarkan Bloodlines 2 dari penerimaan negatif. Banyak ulasan menggambarkan game ini tidak matang, kurang tajam dalam gameplay, dan gagal menangkap kekuatan identitas Bloodlines pertama. GamesRadar+ bahkan menyebutnya sebagai game aksi misteri “setengah matang” yang mengecewakan hampir di setiap aspek.
Hingga kini, respons pemain juga masih terbagi. Sebagian belum mau membeli, sebagian menilai game ini gagal memenuhi harapan, dan sisanya mencoba menikmatinya sebagai karya baru tanpa membandingkan dengan pendahulunya.
Situasi ini meninggalkan satu pertanyaan besar di komunitas gamer. Apakah Bloodlines 2 merupakan langkah awal menuju kebangkitan waralaba atau justru akhir dari harapan sekuel yang layak bagi Bloodlines pertama? Time will tell, tetapi untuk saat ini, nama besar Bloodlines tampaknya masih menjadi beban yang sulit dipikul industri game modern.

